Gelar Coaching Clinic Sepak Bola dan Futsal Bersama Dispora Jatim, Cahyo Harjo Dorong Sertifikasi Pelatih

Bidik Atlet Berprestasi dari Sekolah Lewat Kejuaraan

Olahraga, Politik190 Dilihat

SURABAYA — Pembinaan atlet berprestasi harus dimulai sejak usia dini melalui lingkungan sekolah. Selain bakat, calon atlet membutuhkan pelatih yang kompeten, kondisi fisik yang prima, dukungan gizi, serta karakter yang kuat agar mampu meraih prestasi secara berkelanjutan.

Hal tersebut menjadi perhatian anggota DPRD Jawa Timur, Cahyo Harjo Prakoso, yang menginisiasi kegiatan coaching clinic sepak bola dan futsal bersama Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Jatim di Surabaya, Senin (26/10)

“Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kompetensi pelatih dan guru olahraga di lingkungan sekolah. Langkah tersebut sekaligus menjadi upaya memperkuat fondasi pembinaan atlet muda agar potensi yang dimiliki dapat berkembang menjadi prestasi, ” ujar politisi dari Gerindra ini.

Cahyo menegaskan, pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang kompetitif, berkarakter, dan berdaya saing membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Tidak hanya pemerintah dan legislatif, tetapi juga organisasi cabang olahraga serta insan media.

“Membangun sumber daya manusia yang kompetitif, berkarakter, dan berdaya saing itu butuh kerja sama semua pihak. Tidak hanya eksekutif dan legislatif, tetapi juga kolaborasi pentahelix, termasuk cabang olahraga dan teman-teman media,” ujar Cahyo.

Menurutnya, keberhasilan mencetak atlet berprestasi tidak cukup hanya mengandalkan bakat. Pembinaan harus dilakukan secara konsisten dengan memperhatikan kondisi fisik, kecukupan gizi, dan pembentukan karakter.

“Kunci mencetak atlet yang berprestasi dan berkelanjutan itu fisiknya bagus, gizinya bagus, karakternya juga tahan banting. Itu ada di satuan pendidikan kita, yaitu di sekolah,” tegasnya.

Kompetensi Pelatih Jadi Fondasi Pembinaan Atlet

Cahyo menilai peningkatan kompetensi guru olahraga dan pelatih di sekolah menjadi salah satu faktor penting dalam membangun sistem pembinaan atlet yang berkualitas.

Menurutnya, perkembangan olahraga menuntut para pelatih memiliki kemampuan yang sesuai dengan standar kompetensi dan kebutuhan saat ini. Karena itu, sertifikasi pelatih menjadi salah satu hal yang perlu diperjuangkan.

“Mencetak guru olahraga yang bersertifikasi atau minimal berstandar kompetensi sesuai dinamika perkembangan olahraga hari ini itu penting,” katanya.

Ia menjelaskan, pembinaan olahraga di sekolah tidak hanya berorientasi pada pencapaian prestasi. Lebih dari itu, olahraga juga menjadi sarana membentuk karakter, kedisiplinan, dan daya juang generasi muda.

Dengan pembinaan yang tepat, sekolah diharapkan mampu menjadi tempat lahirnya atlet potensial yang memiliki keseimbangan antara prestasi akademik dan nonakademik.

Futsal dan Sepak Bola Punya Potensi Besar

Pemilihan futsal dan sepak bola dalam kegiatan coaching clinic bukan tanpa alasan. Cahyo melihat kedua cabang olahraga tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, khususnya di Kota Surabaya.

Aktivitas sepak bola dan futsal mudah dijumpai di berbagai kampung. Kedua cabang olahraga itu juga banyak menjadi kegiatan ekstrakurikuler di sekolah sehingga membuka peluang besar untuk menjaring calon atlet sejak usia dini.

Namun, besarnya minat masyarakat harus diimbangi dengan sistem pembinaan yang baik. Tanpa pelatihan yang tepat, potensi atlet muda dikhawatirkan tidak berkembang secara maksimal.

“Potensi calon atlet masa depan ini banyak sekali. Tapi kalau tidak diimbangi dengan fondasi, ya hanya menjadi sebuah potensi, tidak bisa menjadi suatu berlian baru bagi peningkatan prestasi olahraga di Kota Surabaya,” ungkapnya.

Cahyo meyakini sekolah merupakan ekosistem penting dalam proses pembinaan tersebut. Melalui peran guru olahraga dan pelatih yang kompeten, siswa dapat memperoleh dasar latihan yang benar sekaligus kesempatan untuk mengembangkan bakatnya.

DPRD Jatim dan Dispora Bahas Sertifikasi Pelatih

Ke depan, Cahyo akan membahas lebih lanjut bersama Dispora Jatim mengenai penguatan program peningkatan kompetensi pelatih, termasuk peluang sertifikasi.

Ia menegaskan, pelaksanaan program harus disesuaikan dengan kebutuhan nyata di lapangan. Karena itu, masukan dari berbagai cabang olahraga diperlukan agar pembinaan tidak hanya terfokus pada futsal dan sepak bola.

“Kami akan rapatkan lagi dengan beliau bagaimana sinergi antara DPRD dengan Dispora Jatim ini bisa lebih fleksibel dan sesuai dengan kebutuhan zaman hari ini, kebutuhan realitas hari ini,” jelasnya.

Cahyo juga menyebut cabang olahraga yang masuk dalam Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) perlu mendapat perhatian sebagai bagian dari prioritas pembinaan olahraga.

Menurutnya, peningkatan kualitas pelatih harus berjalan beriringan dengan perluasan kesempatan berkompetisi agar atlet muda memiliki ruang untuk mengukur kemampuan dan meningkatkan prestasi.

Kejuaraan Antarpelajar Masuk Rencana

Selain coaching clinic, Cahyo bersama Dispora Jatim turut membahas kemungkinan penyelenggaraan kejuaraan antarpelajar. Kompetisi tersebut direncanakan dapat mencakup berbagai cabang olahraga, mulai dari futsal hingga sepak bola.

Rencana itu masih dalam tahap perumusan dan membutuhkan pembahasan lebih lanjut sebelum direalisasikan.

“Kami juga sempat diskusi dengan Pak Kadispora, bagaimana kalau kita bikin kegiatan kejuaraan-kejuaraan antarpelajar, baik futsal, sepak bola, ataupun cabang olahraga lain. Kita sedang rumuskan, semoga insyaallah nanti ada realisasinya,” katanya.

Melalui peningkatan kompetensi pelatih, pembinaan berbasis sekolah, dan peluang kompetisi antarpelajar, Cahyo berharap pengembangan atlet muda dapat dilakukan secara lebih terarah dan berkelanjutan.

Upaya tersebut diharapkan menjadi bagian dari penguatan fondasi olahraga Jawa Timur sekaligus membuka jalan bagi lahirnya atlet-atlet berprestasi dari lingkungan sekolah. (Tom)

banner 728x90

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *