Mendaki Jabal Nur Bersama Bryan Makkah, Ada Jejak Cinta dan Pengorbanan Siti Khadijah di Gua Hira 

Berita, HAJI 2026132 Dilihat

MAKKAH – Gua Hira selama ini dikenal sebagai tempat turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril. Namun di balik sejarah agung tersebut, terdapat kisah lain yang tak kalah menggetarkan: cinta, kesetiaan, dan pengorbanan seorang istri mulia, Siti Khadijah RA.

Berikut laporan perjalanan wartawan Infogaruda.com yang ikut mendaki Jabal Nur bersama rombongan jamaah haji KBIH Bryan Makkah pada Jumat malam:

Perjalanan menuju Jabal Nur yang berjarak sekitar tujuh kilometer dari Masjidil Haram dipimpin langsung oleh Pengasuh KBIH Bryan Makkah, KH Much. Imam Chambali. Dengan bus, rombongan menempuh perjalanan sekitar 25 menit sebelum tiba di kawasan kaki gunung.

Di area parkir, suasana ramai terlihat dari deretan toko dan pusat perbelanjaan terbuka yang menjual aneka cendera mata, pakaian, parfum, hingga beragam hidangan khas Timur Tengah. Bagi jamaah lanjut usia atau yang tidak memungkinkan untuk mendaki, kawasan ini menjadi tempat menunggu sambil menikmati suasana malam Kota Makkah.

Dari titik itulah perjalanan sesungguhnya dimulai. “Sampai di Gua Hira, jangan lupa membaca Surat Ibrahim ayat 40. Mohon kepada Allah agar anak-anak kita menjadi generasi yang saleh dan taat beragama,” pesan KH Imam Chambali sebelum pendakian dimulai.

Pada awalnya, jalur pendakian terasa cukup bersahabat. Jalan yang tersedia relatif lebar dengan pilihan menggunakan anak tangga atau jalur batuan alami. Namun memasuki titik pemberhentian ketiga, medan berubah drastis. Jalur semakin sempit dan curam, mengharuskan para pendaki bergantian melewati tangga batu dengan peziarah yang sedang turun.

Tebing berbatu bercampur pasir membuat setiap langkah harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Sedikit saja kehilangan keseimbangan, risiko tergelincir mengintai.

Namun rasa lelah seolah terbayar ketika puncak mulai terlihat. Dari kejauhan tampak para peziarah berdoa dan melaksanakan salat di atas ketinggian. Untuk sampai ke puncak Jabal Nur memakan waktu sekitar 1,5 jam

Gua Hira sendiri ternyata jauh lebih kecil dari bayangan banyak orang. Ruangan sederhana itu hanya cukup menampung dua orang dewasa.

Dari lokasi inilah pemandangan Kota Makkah terlihat begitu menakjubkan. Menara Jam Makkah atau Zamzam Tower berdiri megah di kejauhan, menjadi penanda arah Masjidil Haram dan Ka’bah yang menjadi pusat kerinduan umat Islam seluruh dunia.

Di bawah langit malam yang diterangi ribuan lampu kota, suasana hening mengajak siapa saja untuk merenung. Betapa sering manusia mengeluhkan beratnya kehidupan, sementara Rasulullah SAW pernah menghabiskan waktu beribadah dan berkhalwat di tempat sempit dan sunyi ini demi mencari petunjuk dari Allah SWT.

Di Gua Hira inilah, pada usia 40 tahun, Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama berupa Surat Al-Alaq yang menjadi awal risalah Islam bagi seluruh umat manusia.

Menyusuri Jejak Kesetiaan Siti Khadijah

Pendakian malam itu tidak hanya diikuti kaum pria. Banyak jamaah perempuan turut menapaki jalur terjal menuju Gua Hira. Di antara mereka terlihat seorang perempuan paruh baya asal Turki yang berjalan perlahan sambil berpegangan pada batu-batu tebing. Bibirnya terus melantunkan shalawat di setiap langkah.

Pemandangan itu menghadirkan satu bayangan yang begitu kuat: bagaimana perjuangan Siti Khadijah RA lebih dari 14 abad silam.

Saat Rasulullah SAW berkhalwat di Gua Hira, Khadijah bukan sekadar menunggu di rumah. Dengan penuh cinta dan kesetiaan, beliau kerap membawa makanan, minuman, serta kebutuhan lainnya untuk sang suami yang sedang beribadah di atas gunung.

Membayangkan medan pendakian yang terjal dan melelahkan, terasa sulit membayangkan bagaimana seorang perempuan pada masa itu rela berulang kali mendaki demi memastikan Rasulullah SAW tidak kekurangan bekal.

Padahal Khadijah adalah sosok perempuan terpandang dan saudagar sukses di Makkah. Namun kemuliaan hartanya tidak membuatnya enggan berkorban. Ia memilih menjadi pendamping setia perjuangan kenabian sejak awal.

Di sinilah para jamaah perempuan yang mendaki Jabal Nur sering kali merasakan getaran batin yang berbeda. Setiap langkah seakan mengajak mereka memahami betapa besar cinta, ketulusan, dan pengorbanan Siti Khadijah kepada Rasulullah SAW.

Jabal Nur bukan sekadar destinasi ziarah sejarah. Gunung ini juga menjadi saksi abadi bahwa di balik perjuangan besar seorang nabi, terdapat sosok istri luar biasa yang mendampingi dengan cinta, kesetiaan, dan pengorbanan tanpa batas. (Tomi)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *