Surabaya – Kisah haru datang dari Embarkasi Haji Surabaya. Seorang nelayan asal Pulau Papagarang, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, berhasil mewujudkan impiannya berangkat haji bersama sang ibunda yang telah berusia 91 tahun.
Harmin, jamaah haji Kloter 81 asal NTT, tampak setia mendampingi ibunya, Maimunah, yang menjadi jamaah haji tertua dari Nusa Tenggara Timur tahun ini.
Bagi Harmin, perjalanan menuju Tanah Suci bukan sekadar menjalankan rukun Islam kelima. Ada perjuangan panjang yang ia lalui sebagai nelayan dengan penghasilan tak menentu demi bisa berangkat haji bersama sang ibu.
“Tergantung rezeki saja, kalau ada ya kita sisihkan separuhnya. Separuhnya kita sisihkan buat ongkos haji selama lima tahun,” ujar Harmin, Selasa, (12/05).
Harmin mengaku mulai mendaftar haji pada 2019, sedangkan ibundanya menyusul setahun kemudian. Perjalanan mereka menuju Embarkasi Surabaya pun tidak mudah. Dari Pulau Papagarang, keduanya harus menempuh perjalanan laut menggunakan perahu selama sekitar dua jam sebelum menuju daratan.
“Naik perahu laut, kurang lebih dua jam perjalanan,” katanya.
Meski telah berusia 91 tahun, Maimunah disebut masih aktif menjaga kios sembako kecil di depan rumahnya. Kondisi itu membuat Harmin optimistis sang ibu masih kuat menjalani seluruh rangkaian ibadah haji di Tanah Suci.
“Insyaallah masih kuat,” ucapnya singkat.
Di balik wajah tenangnya, Harmin menyimpan harapan sederhana saat berada di Tanah Suci nanti. Ia berharap diberi keselamatan, kesehatan, serta kelancaran selama menjalankan ibadah haji bersama sang ibu.
“Semoga diberikan keselamatan, panjang umur, banyak rezeki,” tuturnya.
Perjalanan Harmin dan Maimunah menjadi gambaran perjuangan masyarakat dari wilayah terpencil demi mewujudkan mimpi menunaikan ibadah haji.
Dari hasil melaut yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, seorang anak akhirnya mampu mengantar ibundanya menuju Baitullah di usia senja. (kris/tom)















