Waspada! Kelelahan dan Penyakit Penyerta Jadi Pemicu Tingginya Angka Kematian Jamaah Haji Debarkasi Surabaya

Berita, HAJI 2026154 Dilihat

Surabaya – Angka kematian jamaah haji Embarkasi Surabaya terus bertambah seiring berlangsungnya proses pemulangan jamaah dari Tanah Suci. Hingga hari kelima debarkasi, total 49 jamaah dilaporkan meninggal dunia.

Dari jumlah tersebut, 47 jamaah wafat saat menjalankan ibadah haji di Arab Saudi. Sementara dua jamaah lainnya meninggal dunia dalam perjalanan pulang ke Indonesia.

Satu jamaah wafat di dalam pesawat, sedangkan satu lainnya meninggal saat berada di bus menuju Asrama Haji Surabaya pada Kamis (4/6) siang.

Kepala Bidang Kesehatan PPIH Debarkasi Surabaya, Rosidi Roslan, mengatakan mayoritas jamaah yang meninggal merupakan kelompok risiko tinggi atau risti, yakni berusia lanjut dan memiliki penyakit penyerta.

“Sebagian besar yang meninggal adalah jamaah risiko tinggi, terutama yang berusia lanjut dan memiliki penyakit penyerta,” ujar Rosidi.

Menurutnya, meskipun para jamaah telah dinyatakan memenuhi syarat kesehatan atau istithaah sebelum berangkat, kondisi tubuh dapat berubah selama menjalani rangkaian ibadah haji yang berat.

“Mereka memang dinyatakan layak berangkat, tetapi kondisi kesehatan bisa menurun karena kelelahan selama menjalankan ibadah di Tanah Suci,” katanya.

Rosidi menjelaskan, kelelahan menjadi faktor utama yang memicu munculnya berbagai gangguan kesehatan yang sebelumnya masih terkendali. Kondisi tersebut diperberat oleh cuaca ekstrem dan perbedaan iklim antara Indonesia dan Arab Saudi.

“Kelelahan dapat memicu penyakit yang sebelumnya terkontrol menjadi kambuh atau memburuk, apalagi dengan suhu panas yang cukup ekstrem,” jelasnya.

Data PPIH Debarkasi Surabaya menunjukkan lebih dari 70 persen jamaah haji tahun ini masuk kategori risiko tinggi. Risiko kesehatan meningkat pada jamaah berusia di atas 65 tahun, terutama yang memiliki riwayat penyakit kronis seperti jantung, hipertensi, diabetes, maupun gangguan pernapasan.

Lonjakan kasus kematian, lanjut Rosidi, paling banyak terjadi setelah jamaah menjalani puncak ibadah Armuzna, yakni rangkaian ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina yang membutuhkan ketahanan fisik tinggi.

“Setelah fase Armuzna, kondisi fisik jamaah banyak yang menurun karena aktivitas yang sangat padat dan menguras tenaga,” ungkapnya.

PPIH Debarkasi Surabaya mengimbau calon jamaah haji pada musim berikutnya untuk mempersiapkan kondisi fisik sejak jauh hari sebelum keberangkatan. Kebugaran tubuh dinilai menjadi faktor penting agar jamaah mampu menjalani seluruh rangkaian ibadah dengan aman hingga kembali ke tanah air.

Hingga saat ini, proses pemulangan jamaah haji Embarkasi Surabaya masih terus berlangsung dengan pengawasan ketat dari petugas kesehatan guna memastikan kondisi jamaah tetap terpantau setelah menempuh perjalanan panjang dari Arab Saudi. (kris/tom)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *