Harumkan Nama Indonesia, Karateka Jatim Arief Budi Prasetyo Raih Emas Kejuaraan Dunia Goju-Ryu

Berita, Olahraga70 Dilihat

PUNE, – Bendera Merah Putih berkibar di panggung karate dunia. Atlet Jawa Timur, Arief Budi Prasetyo, S.H., M.H., berhasil meraih medali emas dalam ajang 8th WGKF World Goju Ryu Championship 2026 yang berlangsung di Shree Shiv Chhatrapati Sports Complex, Mahalunge, Balewadi, Pune, Maharashtra, India, pada 5–10 Oktober 2026. Tak hanya Arief, atlet Jatim lainnya, Abdi Somat, turut menyumbangkan medali perunggu.

Arief meraih emas pada kategori veteran usia 35 tahun. Sementara itu, Abdi Somat memperoleh perunggu di kelas Grand Master usia 45 tahun dengan kategori tinggi badan 170 sentimeter.

Dua medali tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi Indonesia, khususnya Jawa Timur. Di tengah persaingan karateka dari berbagai negara, keduanya mampu menunjukkan kemampuan dan membawa pulang prestasi dari kejuaraan tingkat dunia tersebut.

Bagi Arief, medali emas ini bukan sekadar pencapaian di arena pertandingan. Prestasi tersebut sekaligus membuktikan bahwa kesibukan dalam organisasi olahraga tidak menghalangi seseorang untuk terus mengembangkan kemampuan dan berkompetisi.

Arief saat ini menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Provinsi (Pengprov) Indonesia Beladiri Campuran Amatir (IBCA MMA) Jawa Timur. Di tengah tanggung jawabnya membina olahraga bela diri campuran, ia tetap menjaga semangat berlatih dan menguji kemampuan melalui kompetisi.

“ Saya bersyukur atas raihan medali emas di World Goju Ryu Championship 2026 pada kategori veteran usia 35 tahun. Bagi saya, ini bukan sekadar soal mendapatkan medali, tetapi juga menjadi bagian dari proses untuk terus mengasah kemampuan, menjaga disiplin, dan memberikan yang terbaik dalam setiap pertandingan,” ujar Arief, Selasa (13/10).

Menurut Arief, bertanding di kejuaraan internasional memberikan pengalaman berbeda dibandingkan latihan rutin. Atlet dituntut mampu menghadapi lawan dengan karakter, teknik, dan strategi yang beragam.

Selain penguasaan teknik, kesiapan fisik dan mental juga menjadi faktor penting untuk menghadapi tekanan selama pertandingan. Kemampuan membaca situasi dan mengambil keputusan secara tepat turut menentukan performa atlet di arena.

“Kejuaraan seperti World Goju Ryu Championship 2026 ini sangat penting karena memberikan pengalaman bertanding yang luar biasa. Kita bisa mengukur kemampuan, melihat perkembangan atlet, sekaligus belajar dari karateka-karateka lain, termasuk peserta dari luar negeri,” katanya.

Kejuaraan yang diselenggarakan World Goju-Ryu Karate Federation (WGKF) tersebut mempertemukan karateka dari berbagai negara. Berdasarkan informasi yang disampaikan, ajang ini diikuti peserta dari sekitar 15 negara.

Persaingan internasional tersebut menjadi kesempatan bagi para atlet untuk mengukur kemampuan sekaligus memperluas pengalaman bertanding. Bagi atlet Indonesia, keikutsertaan dalam kompetisi semacam ini juga menjadi sarana untuk mengenali standar persaingan di tingkat dunia.

Abdi Somat Ikut Sumbang Medali

Keberhasilan Arief meraih emas dilengkapi prestasi Abdi Somat yang membawa pulang medali perunggu pada kategori Grand Master usia 45 tahun.

Capaian Abdi menambah catatan positif atlet Jawa Timur dalam kejuaraan dunia Goju-Ryu 2026. Meski berada pada kategori berbeda, prestasi keduanya menunjukkan bahwa kesempatan berkompetisi di tingkat internasional dapat menjadi ruang bagi atlet untuk membuktikan kemampuan.

Bagi atlet bela diri, pengalaman menghadapi lawan dari berbagai latar belakang menjadi bagian penting dalam proses peningkatan kualitas. Setiap pertandingan memberikan pelajaran mengenai penguasaan teknik, strategi, konsentrasi, dan pengendalian diri.

Keberhasilan Arief dan Abdi diharapkan dapat memotivasi atlet lainnya untuk terus meningkatkan kemampuan dan tidak ragu menghadapi persaingan di level internasional.

Arief menilai, prestasi tidak datang secara instan. Ada proses panjang yang harus dilalui, mulai dari latihan secara konsisten, menjaga kedisiplinan, hingga melakukan evaluasi terhadap kekurangan setelah pertandingan.

Dukungan keluarga, pelatih, rekan-rekan, serta lingkungan yang positif juga memiliki peran penting dalam menjaga motivasi atlet selama menjalani proses tersebut.

“Medali ini saya persembahkan untuk keluarga, tim, para pelatih, dan semua pihak yang telah memberikan dukungan. Mudah-mudahan pencapaian ini bisa menjadi motivasi untuk terus meningkatkan prestasi dan ikut mendorong kemajuan olahraga bela diri di Indonesia, khususnya di Jawa Timur,” tuturnya.

Dorong Pembinaan Atlet Berkelanjutan

Selain aktif berkompetisi, Arief memiliki tanggung jawab dalam pembinaan olahraga melalui posisinya sebagai Ketua Umum Pengprov IBCA MMA Jawa Timur.

Pengalaman bertanding di tingkat internasional diharapkan dapat memperkaya perspektifnya dalam mendukung pengembangan atlet. Meski karate Goju-Ryu dan mixed martial arts (MMA) memiliki karakteristik serta aturan pertandingan berbeda, keduanya sama-sama membutuhkan kedisiplinan, kesiapan mental, sportivitas, dan evaluasi kemampuan secara berkelanjutan.

Menurut Arief, pembinaan atlet tidak cukup hanya mengandalkan latihan rutin. Atlet juga perlu memperoleh kesempatan bertanding agar mampu mengukur perkembangan, mengenali kekurangan, dan meningkatkan kepercayaan diri.

Karena itu, sinergi antara organisasi olahraga, pelatih, keluarga, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan diperlukan untuk menciptakan lingkungan pembinaan yang mendukung perkembangan atlet.

“Kita harus terus memberikan kesempatan kepada atlet-atlet muda untuk bertanding. Kompetisi adalah bagian penting dari proses pembinaan. Dengan semakin banyak pengalaman, saya yakin akan semakin banyak atlet Indonesia yang mampu bersaing dan berprestasi di tingkat nasional maupun internasional,” pungkasnya.

Arief berharap semakin banyak atlet muda di Jawa Timur mendapatkan akses terhadap pembinaan berkualitas dan kesempatan mengikuti kompetisi secara berkesinambungan.

Baginya, prestasi yang diraih di Pune bukanlah akhir dari perjalanan. Medali emas tersebut justru menjadi motivasi untuk terus menjaga konsistensi, meningkatkan kemampuan, dan memberikan kontribusi bagi kemajuan olahraga bela diri.

Sementara itu, medali perunggu Abdi Somat turut memperkuat kebanggaan Jawa Timur dalam kejuaraan tersebut.

Keduanya membawa pesan bahwa usia dan tanggung jawab di luar arena bukan alasan untuk berhenti berkembang. Dengan disiplin, kerja keras, dan kesempatan berkompetisi, atlet Indonesia diharapkan semakin mampu menunjukkan daya saing di panggung internasional. (Tom)

banner 728x90

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *