Ecoton Lakukan Aksa 50 Rumah Tangga Untuk Pengurangan Sampah Kali Tebu

Berita70 Dilihat

Surabaya – Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) melalui program Mission for Zero Plastic Leakage (MOZAIK) memulai penelitian Analisis Karakteristik Sampah (AKSA) di RT 04/RW 03, Kelurahan Simokerto, Kecamatan Simokerto, Surabaya.

Penelitian ini menargetkan 50 rumah tangga sebagai responden yang diminta memilah sampah selama delapan hari berturut-turut. Tujuannya untuk mengetahui jumlah, komposisi, dan karakteristik timbulan sampah rumah tangga sebagai dasar penyusunan kebijakan pengurangan sampah.

Direktur Eksekutif ECOTON, Daru Setyorini, mengatakan setiap rumah tangga diwajibkan memisahkan sampah menjadi tiga kelompok utama, yakni organik, daur ulang, dan residu. Seluruh sampah kemudian dikumpulkan untuk disortir kembali menjadi sekitar 40 kategori yang lebih rinci.

“Setelah dikumpulkan, sampah dari seluruh rumah akan kami sortir lagi menjadi sekitar 40 kategori,” kata Daru saat berada di lokasi AKSA, Kamis (16/7/2026).

Menurut Daru, pengumpulan data dilakukan setiap hari selama delapan hari agar tim dapat mengetahui fluktuasi timbulan sampah. Dengan demikian akan terlihat perbedaan volume maupun komposisi sampah dari Senin hingga Minggu.

Ia menjelaskan data tersebut akan menjadi dasar penyusunan sistem pengurangan sampah yang lebih tepat sasaran. Pemerintah, kata dia, membutuhkan data karakteristik timbulan sampah sebelum menentukan kebijakan pengelolaan.

“Kalau sampah organik lebih banyak, berarti fasilitas pengolahan organik perlu diperkuat. Kalau residunya lebih besar, berarti perlu ada pembatasan penggunaan plastik sekali pakai,” ujarnya.

Daru mencontohkan sampah residu meliputi kantong plastik kotor, sachet, styrofoam, dan popok sekali pakai. Jenis sampah tersebut umumnya sulit didaur ulang sehingga seluruhnya berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA).

Menurutnya, tingginya volume residu akan mempercepat penuhnya kapasitas TPA. Karena itu, pengurangan residu perlu dilakukan melalui pembatasan produk sekali pakai yang sebenarnya telah memiliki alternatif.

“Popok sekali pakai bisa diganti popok kain, kantong plastik diganti tas belanja, sedangkan botol dan gelas plastik dapat diganti dengan tumbler yang dipakai berulang kali,” katanya.

Karena penelitian masih memasuki hari pertama, ECOTON belum dapat menyimpulkan jenis sampah yang paling dominan. Setelah delapan hari, data akan dihitung menjadi estimasi timbulan sampah mingguan, bulanan, hingga tahunan, kemudian disimulasikan pada tingkat kelurahan sebagai dasar perencanaan pengelolaan sampah.

#Brand Audit Soroti Tanggung Jawab Produsen

Selain mengukur timbulan sampah, ECOTON juga melakukan brand audit terhadap sampah kemasan. Melalui metode ini, setiap kemasan diidentifikasi untuk mengetahui produsen yang paling banyak menghasilkan sampah yang sulit didaur ulang.

Daru menilai produsen memiliki tanggung jawab mengurangi sampah dari produknya. Salah satunya dengan mendesain kemasan sesuai isi produk agar tidak menghasilkan limbah berlebihan.

Ia juga menyoroti penggunaan kemasan multilayer seperti sachet yang sulit didaur ulang. Menurutnya, kemasan tersebut sebaiknya diganti menjadi kemasan single layer atau dikembangkan melalui sistem isi ulang (refill).

“Harapan kami setiap perusahaan memiliki layanan refill sehingga masyarakat tidak terus-menerus menghasilkan sampah kemasan,” ujarnya.

Praktisi Zero Waste ECOTON, Tonis Afrianto, menjelaskan seluruh sampah dipilah berdasarkan kategori menggunakan sarung tangan. Proses penyortiran dimulai dari material yang dapat didaur ulang, kemudian dilanjutkan pada kelompok residu.

Menurut Tonis, hasil penyortiran akan menunjukkan pola konsumsi masyarakat. Jika botol plastik bening atau sachet menjadi sampah yang paling banyak ditemukan, kampanye pengurangan plastik sekali pakai maupun penggunaan sistem refill dapat difokuskan pada jenis kemasan tersebut.

“Hasil penelitian ini akan menentukan bagaimana desain pengelolaan sampah ke depan,” kata Tonis.

#Warga Dilibatkan Sejak Sumber Sampah

Fasilitator Kelurahan Simokerto, Mujiatiningsih, mengatakan sosialisasi telah dilakukan sebelum penelitian AKSA dimulai. Warga diminta bekerja sama memilah sampah dari rumah agar data yang diperoleh mencerminkan kondisi sebenarnya.

Menurutnya, sebagian warga sempat menolak karena merasa telah membayar iuran kebersihan sehingga tidak perlu lagi memilah sampah. Namun, setelah mendapat penjelasan mengenai tujuan penelitian, mayoritas warga akhirnya bersedia berpartisipasi.

“Sebenarnya pemilahan sampah sudah pernah dilakukan, tetapi tidak sedetail kegiatan ini,” ujar Yuli sapaan akrabnya.

Wilayah yang terdiri atas lima RT ini, sementara penelitian tahap awal dipusatkan di RT 04. Pada hari pertama, sebanyak 46 rumah tangga telah berpartisipasi dari target 50 rumah tangga.

Hingga proses penyortiran hari pertama selesai, tim mencatat timbulan sampah mencapai 60,325 kilogram atau rata-rata sekitar 1,3 kilogram per rumah tangga per hari. Seluruh sampah kemudian dipilah ke dalam sekitar 40 kategori untuk mengetahui komposisi organik, material yang masih dapat didaur ulang, dan residu.

Penelitian dilakukan di Kelurahan Simokerto yang berada di kawasan Kali Tebu. Kawasan yang selama ini menjadi perhatian masyarakat, karena alirannya dipenuhi sampah. Dalam beberapa hari terakhir, terangkat 27 ton sampah dari aliran sungai itu. Tio

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *