BEIRUT – Tiga prajurit TNI yang tergabung dalam Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) gugur di Lebanon selatan hanya berselang beberapa jam dalam insiden terpisah. Seluruhnya merupakan tentara dari Indonesia.
PBB mengatakan pada Senin bahwa ledakan yang “tidak diketahui asal usulnya” menghancurkan sebuah kendaraan di dekat kota Bani Haiyyan, menewaskan dua penjaga perdamaian Indonesia. Dua penjaga perdamaian lainnya terluka, satu luka parah.
Ini terjadi hanya beberapa jam setelah penjaga perdamaian lainnya terbunuh setelah pangkalan UNIFIL terkena proyektil di dekat desa Adchit al-Qusayr di Lebanon selatan.
Ketiga penjaga perdamaian tersebut berasal dari tentara Indonesia, kata para pejabat PBB. Pada serangan pertama, yang jadi korban jiwa adalah Praka Farizal Rhomadhon.
Dalam serangan kedua, dua prajurit TNI Satuan Tugas Batalyon Mekanis (Satgas Yonmek) XXIII-S/Unifil gugur. Informasi yang didapatkan Republika, kedua korban serangan brutal militer Israel itu adalah Mayor Inf ZA dan Sertu I.
Keduanya saat itu sedang berusaha mengevakuasi prajurit TNI lain yang terluka. Namun, dalam perjalanan konvoi itu diserang Zionis Israel.
UNIFIL mengatakan pihaknya meluncurkan penyelidikan atas kedua insiden tersebut tetapi tidak mengatakan siapa yang bertanggung jawab atas kematian tersebut pada Ahad malam hingga Senin tersebut.
PBB mengatakan pada hari Senin bahwa setiap serangan yang disengaja terhadap pasukan penjaga perdamaiannya merupakan “pelanggaran berat” terhadap hukum kemanusiaan internasional dan Resolusi Dewan Keamanan 1701. Resolusi itu diadopsi pada tahun 2006 dan mencakup membantu angkatan bersenjata Lebanon dalam membersihkan wilayah tersebut dari “personil bersenjata, aset dan senjata.”
“Ini hanyalah salah satu dari sejumlah insiden baru-baru ini yang membahayakan keselamatan [dan] keamanan pasukan penjaga perdamaian,” tulis Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dalam sebuah postingan di X, menyerukan akuntabilitas.
Menanggapi kematian pertama, Kementerian Luar Negeri Indonesia mengonfirmasi bahwa penjaga perdamaian tersebut adalah warga negara Indonesia. Kehilangan apapun terhadap pasukan penjaga perdamaian tidak dapat diterima, kata Menteri Luar Negeri Sugiono. Ia juga menyampaikan kecaman atas “serangan Israel di Lebanon selatan.”
Saat ini, lebih dari 8.200 pasukan penjaga perdamaian PBB – atau dikenal sebagai Helm Biru – dari 47 negara ditempatkan di Lebanon selatan, menurut angka UNIFIL yang diperbarui pada 23 Maret.
Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksono, membuka suara terkait insiden serangan misil yang menewaskan prajurit TNI di Lebanon. Dave menilai pemerintah perlu melihat kembali efektivitas misi perdamaian tersebut di tengah pertempuran yang terus berlanjut.
“Ini juga menjadi kesempatan untuk melakukan koreksi ataupun juga melihat apakah keberadaan prajurit kita ini benar-benar berfungsi atau tidak karena jelas dengan adanya serangan yang tidak berhenti, yang terus berlanjut, bahkan sampai menewaskan prajurit kita,” kata Dave saat ditanya wartawan di Kompleks Parlemen, Senin (30/3/2026).
Dave mempertanyakan apakah posisi pasukan TNI saat ini masih sebagai penjaga perdamaian atau justru terjebak dalam pusaran konflik.
“Ini apakah keberadaan kita ini berguna untuk menjaga perdamaian atau justru malah menjadi serangan target daripada serangan daripada IDF,” tegasnya.@

















