43 Tahun Bertahan, 570 Petenis dari 20 Negara Ramaikan ITF Junior Widjojo Soejono 2026

Berita, Olahraga63 Dilihat

SURABAYA: Empat puluh tiga tahun bukan waktu yang singkat bagi sebuah turnamen olahraga untuk terus bertahan. Namun, ITF Junior Widjojo Soejono Cup masih menjadi panggung penting bagi generasi muda tenis Indonesia untuk mengasah kemampuan dan merasakan atmosfer pertandingan internasional.

Tahun ini, turnamen legendaris yang telah berusia 43 tahun tersebut kembali digelar di Surabaya. Sebanyak 570 petenis muda ambil bagian dalam ITF Junior Widjojo Soejono Cup 2026 yang resmi dibuka di Lapangan Tenis Kodam V/Brawijaya, Senin (28/9). Kejuaraan berlangsung hingga 4 Oktober 2026.

Dari total peserta, 420 atlet merupakan petenis Tenis Daerah Pendukung (TDP), sementara 150 lainnya datang dari berbagai negara. Mereka berasal dari Vietnam, Singapura, Filipina, Korea Selatan, Hong Kong, Taipei, India, Fiji, Australia, Thailand, Belanda, Vanuatu, Jepang, Malaysia, Yunani, Amerika Serikat, Irlandia, Prancis, Belgia, serta Indonesia sebagai tuan rumah.

Selama 43 tahun perjalanan turnamen, semangat yang dibawa tetap sama: memberikan ruang bagi petenis junior untuk bertanding, belajar dari lawan, dan mengumpulkan pengalaman sebelum melangkah ke level yang lebih tinggi.

Bagi sebagian besar atlet muda tersebut, turnamen ini bukan sekadar soal menang atau kalah. Setiap pertandingan menjadi kesempatan untuk mengukur kemampuan sekaligus merasakan atmosfer kompetisi internasional.

Untuk mengakomodasi banyaknya peserta, pertandingan digelar di lima venue di Surabaya, yakni Lapangan Tenis Kodam V/Brawijaya, Unesa, PDAM Ngagel, Marinir Gunungsari, dan Pratama Surabaya.

Kelompok usia yang dipertandingkan juga beragam, mulai KU 8, KU 10, KU 12, KU 14, KU 16, hingga kategori internasional KU 18.

Putra pencetus turnamen, Roy Pandu Widjojo, mengatakan panjangnya usia penyelenggaraan menjadi bukti bahwa semangat awal turnamen masih terus dijaga.

“Jumlah peserta semakin bertambah. Meskipun secara jumlah negara mungkin sedikit berkurang, kita tidak boleh melupakan bahwa kejuaraan ini sejak awal diselenggarakan untuk memberi kesempatan atlet junior Indonesia bertanding di level internasional. Kita bersyukur dan tetap konsisten menjaga marwah turnamen ini,” ujar Roy.

Menurutnya, kesempatan bertanding melawan pemain dari luar negeri menjadi pengalaman berharga yang tidak selalu diperoleh para atlet muda.

“Ini kesempatan bagi atlet Indonesia untuk bisa bertanding melawan atlet luar negeri,” katanya.

Semangat menjaga tradisi tersebut juga disampaikan Ketua Umum Pengprov Pelti Jawa Timur, Ismed Jauhar. Ia berharap turnamen yang telah melewati perjalanan panjang itu terus melahirkan bibit-bibit petenis potensial.

“Tiap tahun kita menyelenggarakan kejuaraan internasional ITF. Target kami tahun depan insyaallah bisa menyelenggarakan lebih dari sekali, baik skala ITF maupun ATP untuk menumbuhkan atlet-atlet baru menuju prestasi,” tutur Ismed.

Menurut Ismed, perubahan regulasi ITF terkait kuota pemain internasional juga membuat persaingan antarpemain lokal semakin menarik, terutama pada kelompok KU 16 hingga KU 18.

Sementara itu, Tournament Director Didik Utomo Pribadi menilai ITF Junior Widjojo Soejono bukan sekadar agenda pertandingan tahunan. Turnamen ini merupakan warisan yang harus dirawat agar tetap hidup dan memberi manfaat bagi generasi berikutnya.

“Warisan luhur” dari almarhum Jenderal Widjojo Soejono tersebut, kata Didik, harus terus dijaga secara berkesinambungan.

Untuk memberikan kesempatan bertanding lebih banyak kepada para peserta, panitia menerapkan format round robin. Dengan format ini, kekalahan di pertandingan awal tidak serta-merta mengakhiri perjalanan seorang pemain.

“Dengan sistem ini, peserta yang kalah tidak langsung gugur dan pulang, melainkan mendapat kesempatan untuk bertanding lagi. Ini memberikan semangat tinggi bagi para atlet,” kata Didik.

Di balik ketatnya persaingan, ada harapan sederhana yang dibawa setiap petenis muda: bermain sebaik mungkin, mendapatkan pengalaman baru, dan pulang dengan cerita.

Empat puluh tiga tahun perjalanan turnamen menjadi pengingat bahwa pembinaan atlet tidak dibangun dalam waktu singkat. Dari satu generasi ke generasi berikutnya, lapangan tenis Surabaya terus menjadi tempat anak-anak muda belajar menghadapi tekanan pertandingan dan mengejar mimpi.

Dari lima venue di Surabaya, ratusan raket kembali beradu. Di antara suara bola yang memantul dan sorak dukungan dari pinggir lapangan, terselip harapan agar dari turnamen legendaris ini lahir petenis-petenis baru yang kelak membawa nama Indonesia lebih jauh di pentas dunia. @

banner 728x90

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *