Surabaya — Kota Surabaya kembali menjadi sorotan dunia maritim internasional. Sebanyak 26 negara dari kawasan ASEAN hingga Eropa ambil bagian dalam kegiatan ASEAN Plus Cadet Sail 2026, sebuah pelayaran internasional yang menjadi momentum strategis dalam memperkuat diplomasi maritim Indonesia, Selasa malam (24/03).
Ratusan kadet angkatan laut dari berbagai negara telah tiba di Surabaya untuk mengikuti rangkaian kegiatan yang tidak hanya berfokus pada pelatihan kemaritiman, tetapi juga membangun jejaring global dan persahabatan antar calon pemimpin angkatan laut masa depan.

Kegiatan ini diikuti seluruh negara ASEAN, serta sejumlah negara besar dunia seperti Jepang, Korea Selatan, Australia, Prancis, Italia, hingga Belanda. Kehadiran para kadet dari berbagai belahan dunia tersebut menunjukkan tingginya kepercayaan internasional terhadap peran Indonesia dalam menjaga stabilitas maritim kawasan.
Selama 23 hari pelayaran, para kadet akan berlayar menggunakan kapal latih kebanggaan Indonesia, KRI Bima Suci, dengan rute dari Surabaya menuju Jakarta, Belawan, dan berakhir di Kolombo, Sri Lanka. Selain menjalani latihan pelayaran, para peserta juga akan berinteraksi langsung dengan budaya dan tradisi Indonesia.
Asisten Operasi Kepala Staf Angkatan Laut (Asops Kasal), Laksamana Muda TNI Yayan Sofiyan, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari strategi diplomasi maritim Indonesia yang berkelanjutan.
“Event ASEAN Plus Cadet Sail 2026 ini merupakan program berkelanjutan yang diinisiasi oleh Kepala Staf Angkatan Laut. Ini adalah momentum strategis sebagai bentuk diplomasi Angkatan Laut,” ujar Yayan Sofiyan.
Menurutnya, posisi geografis Indonesia yang berada di antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia menjadikan Indonesia memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas kawasan dan memperkuat kerja sama internasional.
“Indonesia memiliki posisi geografis yang sangat penting, yaitu menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Posisi ini membuat misi diplomatik Angkatan Laut menjadi sangat penting untuk memperkuat daya tawar Indonesia di tingkat regional maupun global,” jelasnya.

Yayan juga menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan investasi jangka panjang dalam membangun hubungan internasional. Para kadet yang saat ini mengikuti pelayaran diproyeksikan akan menjadi pemimpin militer di negara masing-masing di masa depan.
“Tidak menutup kemungkinan dalam 20 hingga 25 tahun ke depan, mereka akan menjadi pemimpin angkatan laut atau bahkan panglima di negaranya. Ketika mereka memiliki kenangan kebersamaan selama pelayaran, maka kerja sama antar negara akan semakin kuat,” tambahnya.
Selain pelatihan maritim, kegiatan ini juga menjadi sarana memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada dunia. Para kadet akan diperkenalkan dengan tradisi kemaritiman Indonesia, termasuk berbagai kegiatan budaya selama pelayaran berlangsung.
Melalui ASEAN Plus Cadet Sail 2026, Indonesia tidak hanya menunjukkan kemampuan sebagai negara maritim besar, tetapi juga menegaskan peran strategisnya sebagai jembatan diplomasi dan kerja sama internasional di kawasan Asia Pasifik dan dunia. (Krisna/tom)

















