Zionis Israel Serang Jemaah Sholat Idul Fitri 2026 di Al-Aqsa, Pertama Sejak 1967!

Berita113 Dilihat

Infogaruda,: Perayaan Idul Fitri di Kota Al-Quds (Yerusalem), Palestina, berubah menjadi duka mendalam.Untuk pertama kalinya sejak 1967, umat Islam tidak dapat melaksanakan salat Idul Fitri 1447 Hijriyah di Masjid Al-Aqsa akibat pembatasan ketat yang diberlakukan rezim penjajah Zionis Israel.

Dalam sebuah video yang diunggah oleh akun medsos Warfare Analysis @warfareanalysis, Jumat (20/3/2026), terlihat detik-detik ketika warga Palestina berusaha mendekati kompleks Masjid Al-Aqsa, namun justru dihadang dan diserang oleh pasukan penjajah Zionis Israel.

“Warga Palestina diserang oleh pasukan pendudukan Israel saat Hari Raya Idul Fitri, ketika mereka berupaya menunaikan salat di depan pintu Masjid Al-Aqsa, yang untuk pertama kalinya dalam 60 tahun ditutup bagi mereka,” tulis akun medi sosial Warfare Analysis.

Situasi tersebut menjadi catatan sejarah kelam, sejak 1967, baru kali ini salat Idul Fitri tidak dapat dilaksanakan di Masjid Al-Aqsa.

Dilarang Salat Ied di Al-Aqsa

Rezim penjajah Zionis Israel secara resmi melarang pelaksanaan salat Idul Fitri di Masjid Al-Aqsa dengan dalih pembatasan keamanan di tengah konflik yang tengah berlangsung, termasuk ketegangan regional terkait Iran.

Akibatnya, warga Palestina menyerukan kepada umat Muslim untuk tetap berkumpul di sekitar Kota Tua Yerusalem dan melaksanakan salat sedekat mungkin dengan Al-Aqsa sebagai simbol perlawanan dan keteguhan iman.

Namun, upaya tersebut tidak berjalan mulus. Aparat kepolisian Zionis Israel dilaporkan menggunakan berbagai cara represif untuk membubarkan kerumunan, termasuk pentungan, granat kejut, dan gas air mata terhadap jemaah yang mencoba beribadah di luar tembok Kota Tua sebagai bentuk protes atas pembatasan tersebut.

Kota Al-Quds Diselimuti Duka

Alih-alih suasana sukacita, Kota Al-Quds atau Yerusalem Timur yang diduduki justru memasuki Idul Fitri dalam suasana muram.

Kota Tua yang biasanya ramai oleh warga Palestina menjelang hari raya berubah drastis menjadi sepi, bahkan disebut menyerupai “kota hantu”.

Pembatasan tidak hanya menyasar aktivitas ibadah, tetapi juga kehidupan ekonomi warga.

Rezim penjajah Zionis Israel memberlakukan larangan berkumpul serta membatasi aktivitas perdagangan. Toko-toko milik warga Palestina dipaksa tutup, kecuali apotek dan toko bahan makanan pokok.

Sejumlah pedagang Palestina yang enggan disebutkan namanya karena khawatir akan tindakan represif mengatakan kepada media Raya kebijakan tersebut telah membuat mereka mengalami tekanan ekonomi yang berat.

Malam Lailatul Qadar Juga Dibatasi

Pembatasan terhadap akses ke Masjid Al-Aqsa sebenarnya telah terjadi sejak malam-malam terakhir Ramadan. Pada malam ke-27 Ramadan, yang diyakini sebagai Lailatul Qadar, pasukan penjajah Zionis Israel juga memperketat penjagaan dan membatasi masuknya jemaah ke kompleks masjid.

Rekaman video menunjukkan ratusan warga Palestina tertahan di Bab al-Sahira (Gerbang Herod), salah satu pintu utama menuju Kota Tua. Mereka terpaksa melaksanakan salat di jalanan dan ruang terbuka di luar gerbang, di bawah pengawasan ketat aparat bersenjata dan barikade.

Situasi tersebut semakin menegaskan bahwa akses terhadap salah satu situs suci umat Islam tersebut terus mengalami pembatasan signifikan, bahkan pada momen-momen paling sakral dalam kalender Islam.

Simbol Perlawanan dan Keteguhan Iman

Di tengah tekanan dan pembatasan, warga Palestina tetap menunjukkan keteguhan dengan berusaha melaksanakan ibadah sedekat mungkin dengan Masjid Al-Aqsa.

Seruan untuk tetap hadir di sekitar kawasan tersebut menjadi simbol perlawanan damai atas pembatasan yang mereka anggap tidak adil.

Peristiwa tersebut kembali menyoroti kondisi Kota Al-Quds yang diduduki serta meningkatnya ketegangan yang berdampak langsung pada kebebasan beribadah umat Islam di salah satu situs paling suci di dunia.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *