Sosok Presiden Venezuela Nicolás Maduro yang Ditangkap AS: Mantan Sopir Bus, Kepalanya Dibandrol Rp820 Triliun

Berita165 Dilihat

Info Garuda: Presiden Venezuela, Nicolás Maduro Moros ditangkap Amerika Serikat (AS). Maduro menjadi salah satu musuh utama Amerika Serikat. Bahkan Washington pernah menawarkan hadiah USD50 juta (Rp820 triliun) untuk penangkapanya atas tuduhan sebagai pemimpin kartel narkoba. Siapa Nicolas Maduro sebenarnya?

Nicolás Maduro Moros lahir pada 23 November 1962 di Caracas, dari keluarga kelas pekerja dengan latar ayah sebagai pemimpin serikat buruh. Dia memulai karier politiknya tak lewat bangku kuliah, melainkan sebagai sopir bus di Metro Caracas, lalu menjadi pemimpin serikat buruh transitmenegaskan akar ideologis dan aktualnya dalam gerakan rakyat.

Kemampuannya berpolitik makin berkembang saat dia aktif mendukung pembebasan Hugo Chávezpemimpin sosialis dan presiden Venezuela pendahulu Maduro dari penjara pada 1992. Setelah itu, dia tinggal setahun di Kuba untuk menimba ilmu politik, sebelum kembali ke Venezuela untuk merintis karier di Parlemen dan pemerintahan, menjadi anggota Konstituante pada 1999, kemudian menjadi ketua Parlemen pada 2005), lalu menjabat Menteri Luar Negeri pada 2006 hingga 2012, menjadi wakil presiden (wapres) pada 2012 hingga 2013, dan akhirnya presiden sejak 2013 hingga sekarang.

Setelah terpilih menggantikan Chávez pada 2013, pemerintahan Maduro ditandai dengan gejolak ekonomi di Venezuela: hiperinflasi, kelangkaan pangan dan obat, serta anjloknya nilai mata uang bolívar, sebagian besar akibat korupsi dan salah urus pemerintahan. Pada 2018 dan 2024, Maduro kembali memenangkan pemilu; namun kontestasinya dinilai curang dan otoriter, memicu penolakan dari berbagai pemerintah termasuk AS.

Tahun 2019, pemimpin oposisi Juan Guaidó mendeklarasikan diri sebagai presiden sementara, namun hingga kini Maduro tetap memegang kendali kekuasaan. Diburu AS dengan Hadiah Rp820 Triliun Pada Maret 2020, pemerintahan AS di bawah Presiden Donald Trump melayangkan tuduhan “narco-terrorism” terhadap Maduro, menawarkan hadiah awal USD15 juta untuk informan yang membantu penangkapannya. Nilai itu kemudian naik menjadi USD25 juta di era Presiden Joe Biden Biden dan kini, di era pemeritahan kedua Trump, melonjak ke angka fantastis USD50 juta (Rp820 triliun).

AS menuduh Maduro memimpin Cartel de los Soles, organisasi narkoba koruptif yang telah beroperasi lebih dari satu dekade, diduga bekerja sama dengan kelompok seperti FARC, Tren de Aragua, dan Kartel Sinaloa, untuk memasok kokain (termasuk yang dicampur fentanyl) ke AS.

Menurut Departemen Kehakiman dan Departemen Luar Negeri AS, DEA telah menyita sekitar 30 ton kokain terkait jaringan itu, dengan hampir 7 ton dikaitkan langsung ke Maduro. Selain itu, AS menyita aset pribadi senilai lebih dari USD700 juta: jet pribadi, rumah mewah, kuda, kendaraan, dan uang tunai. Pemerintah Venezuela mengecam keras langkah AS, menyebutnya sebagai propaganda politik murahan dan upaya mendiskreditkan pemerintah nasional.

Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum juga menyatakan Meksiko tidak memiliki bukti hubungan antara Maduro dan Kartel Sinaloa. Sementara itu, Maduro sendiri menolak keras tuduhan itu, menyebutnya sebagai fitnah imperialisme. Dia juga membangun narasi bahwa AS menggunakan isu narkoba sebagai dalih untuk intervensi militer dan menggulingkan pemerintahnya.

Sebagaimana tidak benar bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal, apa yang mereka katakan tentang Venezuela juga tidak benar,” tegas Maduro pada hari Jumat, merujuk pada alasan di balik invasi AS ke Irak tahun 2003

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *