Rumah Terancam Ambrol Akibat Longsor, Warga Patrang Jember Minta Gubernur Khofifah Turun Tangan

Berita212 Dilihat

JEMBER: Keresahan melanda puluhan warga Krajan, Kelurahan Patrang, Kecamatan Patrang, Jember, Jawa Timur, menyusul bencana tanah longsor, pada Minggu (18/1). Tidur mereka tak bisa lagi nyenyak  lantaran takut adanya longsoran susulan.

Endang Wahyuni (76), salah satu warga yang terkena dampak paling parah akibat tanah longsor, mengatakan saat ini cemas karena kondisi rumahnya di Jl. Moch. Sroedji No. 7, rawan ambrol.

Longsoran dengan dimensi panjang 30 meter dan tinggi 20 meter ini terjadi setelah hujan lebat memicu ketidakstabilan tanah di area tersebut sejak Minggu pagi. Dampak dari pergerakan tanah menyebabkan pondasi bagian belakang rumah korban dalam kondisi menggantung.

Tekanan tanah yang bergeser juga memicu retakan signifikan pada dinding dan lantai bangunan. Meski tidak ada korban jiwa, potensi longsor susulan tetap tinggi karena pergerakan tanah dilaporkan masih berlangsung secara perlahan.

“Sudah ada petugas dari Pemkab datang melihat lokasi. Tetap tidak tenang karena longsoran hanya ditutupi terpal. Katanya tidak bisa mengambil tindakan karena kewenangan dari Pemprov Jatim. Saya berharap Bu Gubernur segera bisa mengambil tindakan, agar kami bisa tenang. Apalagi ini masih musim hujan, ” harap Endang

Sementara Kepala BPBD Jember, Edi Budi Susilo, menyatakan bahwa tim reaksi cepat telah dikerahkan ke lokasi sejak pukul 09.30 WIB untuk melakukan kaji cepat (assessment) dan langkah mitigasi.Baca jugaIndustri Plastik Hilir Indonesia Nyatakan Sikap Atas Rencana Kebijakan BMAD dan BMTP

​”Kami telah mendistribusikan dan memasang dua lembar terpal berukuran besar untuk menutup rekahan tanah. Langkah ini krusial untuk mencegah air hujan masuk langsung ke dalam celah tanah (infiltrasi) yang dapat memicu longsoran yang lebih besar,” ujar Edi, Senin (19/1/2026).

BPBD Jember telah berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat (PUPR) untuk merencanakan pembangunan dinding penahan tanah (plengsengan) permanen guna menstabilkan kembali struktur tanah di lokasi.

“​Sebagai langkah pengamanan, BPBD mengeluarkan beberapa imbauan, yakni pemilik rumah diminta mengosongkan area belakang rumah dan memindahkan aktivitas ke bagian bangunan yang lebih aman,” ungkap Edi.

“Masyarakat diimbau tetap siaga terhadap potensi bencana hidrometeorologi, terutama yang tinggal di kawasan lereng dan tebing dan Warga diminta segera melaporkan setiap temuan rekahan tanah sekecil apa pun kepada perangkat desa atau BPBD setempat,” imbuhnya.

​Pemerintah Kabupaten Jember terus memantau titik-titik rawan bencana di seluruh wilayah guna memastikan keselamatan warga di tengah kondisi cuaca ekstrem yang diprediksi masih akan berlanjut. (*)

 

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *