Proyek Saluran Beton Precast Kupang Gunung Timur Disorot Warga, Kepatuhan Teknik Irigasi Dipertanyakan

Berita24 Dilihat

Surabaya – Proyek pembangunan saluran permanen beton precast U-Gutter/box culvert di Jalan Kupang Gunung Timur Gang IV dan Gang V, yang dibiayai APBD Tahun Anggaran 2025 dan berada di bawah Satuan Kerja Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Pemkot Surabaya, menuai sorotan tajam dari warga setempat.

Sejak awal pelaksanaan, proyek tersebut diduga menyimpang dari kaidah teknik drainase dan irigasi sebagaimana diatur dalam bestek, Bill of Quantity (BoQ), Rencana Anggaran Biaya (RAB), serta gambar kerja.

Warga menilai tahapan pekerjaan di lapangan tidak memenuhi standar teknis konstruksi. Pemasangan elemen U-Gutter/box culvert disebut dilakukan tanpa persiapan tanah dasar (subgrade) yang memadai, tanpa pemadatan, serta tanpa pengaturan elevasi dan kemiringan aliran (longitudinal slope), yang merupakan unsur utama agar saluran berfungsi secara gravitasi.

“Sejak awal terlihat asal pasang. Tidak ada pengukuran elevasi dan kemiringan. Ini saluran air, bukan sekadar menaruh beton,” ujar salah satu warga. Jumat (16/1/2026).

Sorotan utama tertuju pada kondisi galian yang sejak awal tergenang air. Lubang galian dipenuhi air tanah rembesan hingga menyerupai kolam, bahkan genangan mencapai permukaan jalan kampung.

Kondisi tersebut membuat kedalaman, lebar, serta elevasi galian tidak dapat diidentifikasi secara jelas. Dalam kaidah teknik irigasi, kondisi ini seharusnya ditangani dengan dewatering atau pemompaan air keluar dari galian sebelum pekerjaan lantai kerja dan pemasangan elemen beton dilakukan.

Namun, berdasarkan pantauan warga, proses pemompaan air justru diabaikan. Akibatnya, lantai kerja (rabat beton) yang semestinya menjadi alas stabil pemasangan box culvert tidak dapat dikerjakan secara benar.

Tanpa lantai kerja yang kering, rata, dan sesuai elevasi rencana, kontrol kemiringan dan garis aliran dipastikan tidak tercapai. Meski demikian, pekerja tetap menurunkan elemen box culvert ke dalam galian yang masih tergenang air.

Bahkan, sebagian pekerja terlihat berdiri di dalam genangan saat proses penyetelan elemen beton. Pemasangan box culvert dilakukan secara visual tanpa alat ukur elevasi, waterpass, maupun pengendalian slope sebagaimana disyaratkan dalam teknik irigasi. Kondisi ini dinilai berisiko menimbulkan alur balik (backwater), sedimentasi, kebocoran sambungan, hingga penurunan struktur (settlement) akibat tanah dasar yang tidak stabil.

Selain itu, sambungan antar elemen beton juga disorot karena dinilai tidak presisi, sehingga berpotensi menyebabkan kebocoran dan penggerusan tanah (scouring) di bawah saluran. Urugan kembali di sisi-sisi galian pun dipertanyakan, karena disebut hanya menggunakan tanah lumpur bercampur sampah sisa galian tanpa material pilihan seperti sirtu dan tanpa pemadatan yang memadai.

Pada tahap akhir pekerjaan, pemasangan tutup plat beton saluran juga menuai kritik. Saat pemasangan, kondisi galian masih tergenang air sehingga elevasi akhir dan kualitas hasil fisik saluran tidak dapat dipastikan.

Warga menilai pekerjaan tersebut tidak memenuhi tahapan pelaksanaan yang disyaratkan dan menyebut hasilnya sekadar formalitas proyek.

“Kalau metode kerja seperti ini dibenarkan, umur saluran dipastikan pendek dan justru menimbulkan masalah baru,” ujar

Sejumlah warga pun mempertanyakan peran konsultan pengawas dan pengawas dari dinas, apakah metode kerja tersebut benar-benar disetujui meski diduga bertentangan dengan bestek, BoQ, RAB, serta detail gambar kerja. Tak hanya itu, muncul pula pertanyaan apakah hasil fisik pekerjaan tersebut telah diserahterimakan dan dibayarkan oleh DSDABM dalam serapan APBD TA 2025.

Warga berharap aparat penegak hukum, termasuk Kejaksaan, turut mencermati proyek ini guna menindaklanjuti dugaan penyimpangan pelaksanaan dan potensi kerugian negara.

Hingga berita ini diturunkan, DSDABM Pemkot Surabaya belum memberikan penjelasan resmi terkait dugaan ketidaksesuaian metode kerja dan spesifikasi teknis proyek tersebut. Warga mendesak dilakukan evaluasi dan audit menyeluruh, termasuk pengukuran ulang elevasi dan kemiringan saluran, pemeriksaan lantai kerja, kualitas sambungan, serta metode urugan kembali, agar anggaran publik benar-benar menghasilkan infrastruktur yang aman, fungsional, dan sesuai standar teknik irigasi.

Kondisi proyek saluran beton precast di Jalan Kupang Gunung Timur terpantau tergenang air tanpa proses dewatering, tanpa lantai kerja, tanpa pengendalian elevasi dan kemiringan saluran, serta menggunakan urugan tanah bekas galian. Warga menilai metode ini mengabaikan standar teknik irigasi dan spesifikasi teknis proyek. Jer

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *