Surabaya, – Proyek pembangunan Gedung Puskesmas Manukan Kulon, yang dikerjakan di bawah Satuan Kerja (Satker) Dinas Kesehatan Pemerintah Kota Surabaya, menuai sorotan. Proyek yang menelan anggaran sebesar Rp 4,31 miliar dari APBD Kota Surabaya Tahun Anggaran 2025 ini diketahui mengalami keterlambatan serah terima pekerjaan, serta disangsikan kesesuaian spesifikasi teknisnya di lapangan.
Proyek konstruksi dengan masa pelaksanaan 165 hari kalender ini diawasi oleh PT Titian Cahaya Consultant, dan dimenangkan melalui tender oleh CV Renno Abadi yang beralamat di Jalan Danau Bratan Timur H5 J27, Malang. Berdasarkan dokumen lelang, nilai HPS proyek mencapai Rp 5,6 miliar.
Pantauan di lokasi menunjukkan pekerjaan telah mencapai lebih dari 50 persen. Namun, sejumlah komponen struktur utama seperti beton bertulang, ukuran dimensi besi, jarak beugel (sengkang), dan karakteristik beton diduga tidak seluruhnya sesuai dengan spesifikasi kerja (bestek) yang disyaratkan.
Beberapa kolom besar terlihat telah dilakukan pengecoran menggunakan bekisting kayu (papan cetak). Namun, muncul pertanyaan apakah ukuran dan komposisi kolom serta sambungan besinya telah mengikuti perencanaan struktur yang benar. Misalnya, sambungan besi yang tidak tepat panjang atau tidak mengikuti ketentuan 1/5 dari panjang bentang bisa mengurangi daya ikat dan menurunkan kekuatan struktur beton secara keseluruhan.
Selain itu, komposisi campuran beton juga menjadi perhatian. Apakah campuran telah sesuai dengan perbandingan ideal (1:2:3) untuk mendapatkan karakteristik beton dengan kekuatan tekan maksimal, sebagaimana tercantum dalam rencana kerja dan syarat (RKS). Kesesuaian antara kolom dan balok juga penting agar sambungan memiliki integritas struktur yang utuh.
Dari pantauan lain, pada bagian rangka atap yang menggunakan bahan baja ringan (galvalum), perlu dipastikan bahwa ketebalan dan dimensi galvalum sesuai spesifikasi agar mampu menopang beban atap dan memberikan daya tahan jangka panjang.
Yang tak kalah menarik, ditemukan tabung gas elpiji 3 kilogram (gas melon subsidi) di area proyek yang tampak digunakan untuk keperluan pengelasan. Penggunaan gas bersubsidi di area proyek pemerintah ini tentu menimbulkan pertanyaan, karena elpiji 3 kilogram sejatinya diperuntukkan bagi rumah tangga dan usaha mikro, bukan untuk kegiatan konstruksi berskala besar.
Hingga saat ini, beberapa pekerjaan seperti struktur beton bertulang, sambungan kolom-balok, pasangan dinding, lantai, instalasi air dan listrik, hingga plafon atap masih dalam tahap penyelesaian. Koran ini masih terus memantau progres serta kualitas pelaksanaan proyek hingga proses finishing dan serah terima nantinya.
Sampai berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari Satker Dinas Kesehatan Pemkot Surabaya terkait keterlambatan proyek maupun dugaan penyimpangan teknis yang ditemukan di lapangan. Jer

















