Peringatan Haornas 2026, Gubernur Khofifah Ajak Masyarakat Jatim Jadikan Olahraga sebagai Budaya Hidup untuk Wujudkan SDM Sehat dan Produktif

Olahraga50 Dilihat

 

SURABAYA, 9 SEPTEMBER 2026 – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak masyarakat menjadikan olahraga sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari, bukan sekadar aktivitas yang dilakukan sesekali. Karena budaya hidup aktif dan bugar merupakan salah satu fondasi penting untuk membangun sumber daya manusia Jawa Timur yang sehat, produktif, tangguh, dan berkarakter.

Ajakan tersebut disampaikan Gubernur Khofifah bertepatan dengan peringatan Hari Olahraga Nasional (HAORNAS) ke-43 Tahun 2026 yang mengusung tema “Menuju Masyarakat Aktif dan Bugar”. Ia menilai tema tersebut sejalan dengan kebutuhan untuk mendorong olahraga semakin dekat dengan kehidupan masyarakat, mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, tempat kerja, hingga komunitas.

“Selamat memperingati Hari Olahraga Nasional Tahun 2026. Mari jadikan olahraga bukan sekadar kegiatan sesaat, melainkan kebutuhan sekaligus budaya hidup yang dimulai dari diri sendiri, keluarga, sekolah, tempat kerja, hingga lingkungan masyarakat,” ujarnya di Surabaya, Rabu (9/9).

Bagi Khofifah, HAORNAS tidak semata menjadi momentum untuk mengapresiasi prestasi atlet. Lebih jauh, peringatan tersebut harus menjadi pengingat bahwa olahraga merupakan bagian dari pembangunan manusia.

Olahraga, kata dia, tidak hanya membantu menjaga kebugaran dan kesehatan, tetapi juga membentuk karakter. Kebiasaan berolahraga dapat menanamkan kedisiplinan, kerja keras, sportivitas, kejujuran, daya juang, sekaligus kemampuan untuk bekerja sama.

Maka dari itu, budaya bergerak perlu dibangun sejak usia dini dan dijaga sepanjang kehidupan. Menurut Khofifah, olahraga tidak harus identik dengan fasilitas yang mahal atau aktivitas yang berat.

“Olahraga tidak harus selalu dilakukan dengan fasilitas yang mahal. Berjalan kaki, berlari, bersepeda, senam, berenang, bermain bulu tangkis, hingga memainkan olahraga tradisional dapat menjadi pilihan. Yang terpenting adalah kemauan untuk mulai bergerak dan melakukannya secara rutin,” ungkapnya.

Untuk membangun masyarakat yang aktif, Khofifah menilai lingkungan yang mendukung aktivitas fisik juga harus terus diperluas. Pemerintah bersama keluarga, sekolah, perguruan tinggi, dunia usaha, organisasi olahraga, dan komunitas perlu menciptakan ruang serta kegiatan yang membuat masyarakat lebih mudah berolahraga.

Ketersediaan ruang publik yang aman, nyaman, inklusif, ramah anak, ramah lansia, dan dapat diakses penyandang disabilitas menjadi salah satu bagian penting dari upaya tersebut. Demikian pula dengan penguatan kegiatan olahraga berbasis sekolah, desa, kelurahan, perkantoran, dan komunitas.

“Mari kita hidupkan taman, lapangan, halaman sekolah, dan ruang publik lainnya dengan kegiatan olahraga. Semakin mudah akses masyarakat untuk bergerak, semakin besar peluang kita membangun Jawa Timur yang sehat, produktif, dan bahagia,” tuturnya.

Di sisi lain, Khofifah menegaskan bahwa penguatan olahraga masyarakat harus berjalan seiring dengan pembinaan olahraga prestasi. Menurutnya, masyarakat yang aktif berolahraga dan lahirnya atlet berprestasi merupakan dua bagian dari ekosistem olahraga yang saling menguatkan.

Untuk mencetak atlet berprestasi, pembinaan harus dilakukan secara terencana dan berkelanjutan. Proses tersebut dimulai dari pencarian serta identifikasi talenta sejak usia dini, kompetisi yang berjenjang, peningkatan kualitas pelatih, hingga pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi olahraga atau sport science.

Menurut Khofifah, perhatian terhadap atlet juga tidak boleh berhenti pada aspek latihan. Pemenuhan kebutuhan gizi, kesehatan, pendidikan, psikologi, perlindungan, dan kesejahteraan atlet perlu menjadi bagian dari sistem pembinaan secara menyeluruh.

“Prestasi tidak lahir secara instan. Di balik setiap medali terdapat proses panjang, kedisiplinan, pengorbanan, dukungan keluarga, kerja keras pelatih, serta sistem pembinaan yang konsisten. Ekosistem inilah yang harus terus kita jaga dan perkuat,” tegasnya.

Khofifah juga menekankan pentingnya memastikan olahraga dapat diakses semua kalangan. Kesempatan untuk berolahraga dan berprestasi, menurutnya, harus terbuka bagi masyarakat tanpa terkecuali, termasuk atlet penyandang disabilitas.

Ia menilai keterbatasan fisik tidak seharusnya menjadi hambatan untuk beraktivitas, berkompetisi, maupun mengukir prestasi. Sehingga, pengembangan olahraga inklusif perlu terus menjadi bagian dari pembangunan keolahragaan di Jawa Timur.

Dalam momentum HAORNAS ke-43, Khofifah menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan olahraga Jawa Timur, mulai dari atlet, atlet penyandang disabilitas, pelatih, wasit, tenaga keolahragaan, guru olahraga, pengurus cabang olahraga, organisasi olahraga, komunitas, hingga keluarga atlet.

“Terima kasih atas kerja keras, dedikasi, dan semangat pantang menyerah yang telah diberikan. Setiap prestasi yang diraih tidak hanya mengharumkan nama Jawa Timur, tetapi juga menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda untuk berani bermimpi dan berjuang,” katanya.

Lebih dari urusan kesehatan dan prestasi, Khofifah melihat olahraga memiliki dampak yang lebih luas bagi pembangunan daerah. Berbagai ajang olahraga dapat menjadi ruang untuk memperkuat persatuan dan kebersamaan, sekaligus menggerakkan ekonomi kreatif, industri olahraga, UMKM, dan sektor pariwisata.

Kolaborasi lintas sektor pun perlu terus diperkuat agar olahraga memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi olahraga, komunitas, dan masyarakat dapat mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing.

“Olahraga memiliki bahasa universal yang mampu menyatukan masyarakat dari berbagai latar belakang. Di lapangan, kita belajar menghormati aturan, menerima hasil dengan lapang dada, dan bangkit setelah mengalami kekalahan. Nilai-nilai inilah yang juga kita perlukan dalam kehidupan bermasyarakat,” jelasnya.

Khofifah berharap HAORNAS 2026 tidak berhenti sebagai peringatan tahunan, tetapi menjadi momentum untuk memperkuat gerakan olahraga di seluruh Jawa Timur. Masyarakat diajak mulai dari hal sederhana dengan memilih aktivitas fisik yang disukai dan menjadikannya sebagai kebiasaan.

Menurutnya, ukuran keberhasilan pembangunan olahraga tidak hanya terlihat dari jumlah medali yang berhasil diraih atlet. Lebih dari itu, keberhasilan juga tercermin ketika semakin banyak masyarakat menjadikan olahraga sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

“Keberhasilan pembangunan olahraga tidak hanya diukur dari banyaknya medali yang diraih. Kemenangan terbesar adalah ketika olahraga telah menjadi kebiasaan dan masyarakat kita tumbuh semakin sehat, aktif, bugar, produktif, serta berkarakter,” pungkasnya.@

*Kepala Biro Adm. Pimpinan*

*Pulung Chausar*

title="banner 728x90" width="728" height="90"/>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *