SURABAYA – Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya dipadati masyarakat yang hendak mengurus pengambilan barang bukti tilang manual, Jumat (30/10/2026). Dalam sehari, jumlah pelanggar lalu lintas yang datang untuk menyelesaikan perkara tilang diperkirakan mencapai 1.200 orang.
Membludaknya pengunjung tersebut menjadi perhatian, tidak hanya dari sisi pelayanan publik, tetapi juga terkait potensi penerimaan negara dari pembayaran denda tilang.
Kasi Intelijen Kejari Surabaya, Emanuel Yogi Budi Aryanto, S.H., M.H., membenarkan tingginya jumlah pelanggar yang mendatangi kantor kejaksaan untuk mengurus tilang.
“Ada sekitar 1.200 pelanggar hari ini,” ujar Emanuel Yogi.
Jumlah tersebut menunjukkan tingginya aktivitas pelayanan tilang manual di Kejari Surabaya. Para pelanggar harus menyelesaikan kewajiban pembayaran denda sesuai putusan atau ketentuan yang berlaku sebelum mengambil barang bukti yang ditahan.
Di balik antrean panjang tersebut, muncul pertanyaan mengenai besarnya uang denda yang terkumpul dari ribuan pelanggar dalam satu hari.
Pembayaran denda tilang yang masuk melalui mekanisme resmi dapat menjadi bagian dari penerimaan negara. Karena itu, besarnya jumlah pelanggar yang dilayani berpotensi menjadi salah satu indikator besarnya transaksi pembayaran denda pada hari tersebut.
Namun, jumlah pelanggar yang mencapai sekitar 1.200 orang belum bisa dijadikan dasar untuk menghitung total penerimaan negara. Besaran denda setiap pelanggar dapat berbeda, bergantung pada jenis pelanggaran dan ketentuan yang berlaku.
Hingga berita ini ditulis, total nominal denda yang dibayarkan oleh para pelanggar tersebut masih belum diketahui. Data resmi dari Kejari Surabaya diperlukan untuk memastikan berapa nilai penerimaan yang terkumpul pada hari itu.
Di sisi lain, tingginya jumlah masyarakat yang datang juga menjadi tantangan bagi Kejari Surabaya dalam menjaga kelancaran pelayanan. Pengelolaan antrean, kecepatan proses administrasi, serta transparansi pembayaran menjadi aspek penting agar pelayanan tilang berlangsung tertib dan akuntabel.
Dengan jumlah pengunjung yang mencapai ribuan orang dalam sehari, keterbukaan informasi mengenai volume pelayanan dan realisasi penerimaan denda menjadi penting untuk memberikan gambaran yang utuh kepada masyarakat. (Tomi)















