Lebih Dekat dengan Gus Kikin, Calon Ketum PBNU 2026-2031

Berita, Nasional, Politik260 Dilihat

JOMBANG – Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur, KH Abdul Hakim Mahfudz atau yang akrab disapa Gus Kikin, resmi mendapatkan mandat dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Jawa Timur untuk maju sebagai calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026–2031 dalam Muktamar ke-35 NU yang akan digelar di Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, pada 27–31 Agustus 2026.

Penugasan tersebut menempatkan Gus Kikin sebagai salah satu figur yang diperhitungkan dalam bursa kepemimpinan organisasi Islam terbesar di Indonesia. Lalu, siapa sebenarnya sosok Gus Kikin?

Berdasarkan informasi dari NU Online, KH Kikin Abdul Hakim Mahfudz merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, yang dipercaya melanjutkan estafet kepemimpinan almarhum KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) sejak 2020.

Keturunan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari

Gus Kikin lahir di Jombang pada Ahad, 17 Agustus 1958, dari pasangan KH Mahfudz Anwar dan Nyai Hj Abidah Ma’shum.

Dari garis ibu, ia merupakan cicit Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari melalui Nyai Hj Khoiriyah Hasyim, putri sulung pendiri Nahdlatul Ulama yang menikah dengan KH Ma’shum Ali, ulama ahli falak sekaligus pengarang kitab Amtsilah Tasrifiyah.

Sementara dari jalur ayah, nasabnya bersambung kepada KH Anwar Alwi, pendiri Pondok Pesantren Tarbiyatun Nasyi’in Paculgowang, Jombang. Dari garis keluarga ini pula, Gus Kikin masih memiliki hubungan kekerabatan dengan KH Anwar Manshur, Pengasuh Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin Lirboyo.

Bersama istrinya, Nyai Hj Lelly Lailyah, Gus Kikin dikaruniai dua orang anak, yakni Ning Dewi Adzroti dan Gus Yusuf Adnan.

Pendidikan Formal dan Pesantren

Gus Kikin mengawali pendidikan formal di Madrasah Ibtidaiyah Jombang, kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 1 Jombang dan SMA Negeri 2 Jombang.

Setelah lulus sekolah menengah, ia menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta dan kemudian meraih gelar Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Terbuka.

Selain pendidikan formal, ia juga mengenyam pendidikan pesantren di Pondok Pesantren Sunan Ampel Jombang yang didirikan ayahnya serta Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Seblak, Jombang.

Melanjutkan Kepemimpinan Tebuireng

Sejak dipercaya menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng ke-8 pada 2020, Gus Kikin melanjutkan berbagai program pengembangan yang telah dirintis Gus Sholah.

Di bawah kepemimpinannya, Tebuireng terus berkembang sebagai salah satu pesantren terbesar di Indonesia yang memiliki belasan cabang di berbagai daerah.

Pemilihannya sebagai pengasuh sebenarnya telah dipersiapkan sejak 2016 melalui musyawarah keluarga besar keturunan KH M Hasyim Asy’ari.

Aktif di PBNU dan PWNU Jatim

Selain memimpin Tebuireng, Gus Kikin juga memiliki rekam jejak panjang di Nahdlatul Ulama.

Saat ini ia menjabat sebagai Ketua PBNU Bidang Ekonomi sejak 2022. Sebelumnya, ia mengemban amanah sebagai Wakil Ketua PWNU Jawa Timur selama periode 2008–2022 dan sempat dipercaya sebagai Penjabat Ketua PWNU Jatim sebelum akhirnya terpilih sebagai Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur masa khidmat 2024–2029.

Berpengalaman di Dunia Bisnis

Sebelum aktif penuh di lingkungan pesantren, Gus Kikin memiliki pengalaman panjang di dunia usaha.Ia pernah bekerja di PT Djakarta Lloyd sebagai Kepala Cabang Cilegon dan Pimpinan Harian Cabang Medan pada periode 1980–1992.

Pada 1997, ia mendirikan BBS Group yang bergerak di berbagai sektor usaha. Ia juga pernah menjabat sebagai Ketua Bidang Energi Kadin Jawa Timur pada 2000–2013.

Dinilai Memiliki Modal Kepemimpinan Nasional

Pemerhati dan kader NU, Mas’ud Ibnu Syamsuri, dalam tulisannya menilai Gus Kikin memiliki modal kuat untuk memimpin PBNU.

Menurutnya, meski berasal dari trah pendiri NU, kekuatan utama Gus Kikin bukan hanya terletak pada garis keturunan, melainkan pada pengalaman panjangnya memimpin pesantren, organisasi kemasyarakatan, dan dunia usaha.

Kombinasi tersebut dinilai menjadi modal penting dalam menghadapi tantangan NU ke depan, yang tidak hanya berkaitan dengan isu keagamaan, tetapi juga pendidikan, ekonomi, teknologi, pemberdayaan masyarakat, lingkungan hingga diplomasi peradaban.

Mas’ud menilai pengalaman Gus Kikin di dunia bisnis membentuk kemampuan dalam tata kelola organisasi, inovasi, efisiensi, dan pengambilan keputusan, sementara latar belakang pesantren memperkuat nilai kebijaksanaan, kesabaran, serta komitmen terhadap pelayanan umat.

Menurutnya, kepemimpinan NU ke depan membutuhkan figur yang mampu menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah sekaligus membawa organisasi beradaptasi menghadapi perubahan global, termasuk era digital, revolusi teknologi, hingga perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence).

Dengan rekam jejak tersebut, Gus Kikin dinilai memiliki bekal kepemimpinan yang lahir dari akar rumput NU sekaligus pengalaman luas dalam membangun jaringan sosial, mengelola lembaga, dan menjaga kepercayaan warga nahdliyin di tingkat nasional. (ANAM/ TOM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *