Jamaah Umrah Jatim Meningkat, Kemenhaj Imbau Pilih Penerbangan Langsung Demi Keamanan

Berita, HAJI 202646 Dilihat

Surabaya — Jumlah jamaah umrah asal Jawa Timur terus menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa pekan terakhir meski  kawasan Timur Tengah sedang bergejolak.  Kementerian Haji Jawa Timur mengimbau jamaah dan biro travel untuk lebih selektif memilih maskapai, terutama dengan mengutamakan penerbangan langsung tanpa transit.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji Jawa Timur, Mohammad As’adul Anam, menjelaskan bahwa persoalan utama perjalanan umrah saat ini bukan pada pelaksanaan ibadah, melainkan pada aspek penerbangan, khususnya bagi jamaah yang menggunakan rute transit.

“Problem utama umrah saat ini ada pada penerbangan. Kalau penerbangan aman dan langsung tanpa transit, maka jadwal tetap berjalan normal dan tidak ada penundaan,” ujar As’adul Anam.

Menurutnya, maskapai yang menyediakan penerbangan langsung dari Indonesia ke Arab Saudi masih beroperasi normal dan tetap memberangkatkan jamaah sesuai jadwal. Hanya saja, jalur penerbangan dialihkan melalui jalur selatan demi menjaga keselamatan penerbangan.

Ia mencontohkan, penerbangan langsung dari kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bali menuju Jeddah hingga kini tidak mengalami kendala berarti.

“Maskapai yang terbang langsung dari Indonesia ke Jeddah masih on schedule, hanya jalurnya dialihkan melalui jalur selatan,” jelasnya.

Jumlah Keberangkatan Terus Naik
Data Kantor Wilayah Kementerian Haji Jawa Timur menunjukkan peningkatan signifikan jumlah jamaah yang akan berangkat umrah dalam tiga pekan terakhir.

Tiga pekan lalu, jumlah calon jamaah tercatat sekitar 1.700 orang. Angka tersebut meningkat menjadi sekitar 2.500 orang pada pekan berikutnya. Sementara pada data terbaru, jumlahnya telah mencapai sekitar 4.500 jamaah.

Di sisi lain, jumlah jamaah yang kembali ke Indonesia justru mengalami penurunan. Tiga pekan lalu, tercatat sekitar 9.200 jamaah pulang ke tanah air. Kemudian turun menjadi 7.600 jamaah, dan terbaru tercatat sekitar 4.991 jamaah.

Penurunan angka kepulangan ini dinilai sebagai indikasi bahwa sebagian besar jamaah telah berhasil kembali dengan selamat dan tidak mengalami hambatan signifikan.

Risiko Terjadi pada Penerbangan Transit
Kementerian Haji menegaskan bahwa kasus jamaah tertahan di luar negeri umumnya terjadi pada mereka yang menggunakan penerbangan dengan sistem transit, terutama di beberapa negara di kawasan Timur Tengah.

Dalam sejumlah kasus, jamaah bahkan harus kembali ke kota Jeddah dan membeli tiket baru agar bisa pulang ke Indonesia. Ada pula jamaah yang terpaksa melanjutkan perjalanan melalui jalur darat dengan biaya yang tidak sedikit.

“Ada jemaah yang sempat tertahan karena pesawat tidak beroperasi, bahkan harus kembali ke Jeddah dan membeli tiket baru agar bisa pulang ke Indonesia,” ungkap As’adul Anam.

Ia menambahkan, pada masa puncak eskalasi situasi di kawasan tersebut, beberapa jamaah yang transit di negara tertentu tidak dapat melanjutkan perjalanan udara dan terpaksa menempuh perjalanan darat dengan biaya hingga puluhan juta rupiah.

Kemenhaj Minta Travel Utamakan Keselamatan
Kementerian Agama Jawa Timur juga mengingatkan biro travel penyelenggara umrah agar tidak hanya berorientasi pada keberangkatan jamaah, tetapi juga memperhatikan faktor keselamatan dan perkembangan situasi di kawasan tujuan.

Jika kondisi dinilai berisiko tinggi, penundaan keberangkatan dianggap sebagai langkah yang lebih bijak dibandingkan memaksakan perjalanan.

“Kami berharap biro travel benar-benar memperhatikan keselamatan jemaah. Jika kondisi di sana berisiko tinggi, lebih baik keberangkatan ditunda. Keselamatan jemaah harus menjadi prioritas utama,” tegasnya.

Kementerian Haji pun mengimbau masyarakat yang akan menunaikan ibadah umrah untuk memastikan rute penerbangan yang digunakan adalah penerbangan langsung serta memantau informasi resmi terkait kondisi perjalanan internasional. (Kris)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *