Gubernur BI Perry Warjiyo Mendadak Mundur, Rupiah Melorot!

Berita, Ekonomi, Nasional243 Dilihat

JAKARTA – Nilai tukar rupiah membuka perdagangan awal pekan dengan pelemahan setelah kabar pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI) memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap kesinambungan kepemimpinan bank sentral.

Mengacu pada data Refinitiv, Senin (27/7/2026), rupiah dibuka di level Rp17.960 per dolar AS, melemah 0,14 persen dibandingkan penutupan perdagangan Jumat (24/7/2026) yang berada di posisi Rp17.935 per dolar AS.

Pelemahan ini terjadi di tengah kondisi indeks dolar Amerika Serikat (DXY) yang justru melemah. Pada pukul 09.00 WIB, DXY tercatat turun 0,3 persen ke level 101,164, mengindikasikan tekanan terhadap rupiah lebih banyak berasal dari sentimen domestik dibanding faktor eksternal.

Pengunduran Diri Perry Warjiyo Picu Kekhawatiran Pasar

Sentimen negatif dipicu oleh keputusan mengejutkan Perry Warjiyo yang mengundurkan diri sebagai Gubernur Bank Indonesia pada Sabtu (25/7/2026). Pengunduran diri tersebut disebut dilakukan secara sukarela dengan alasan pribadi melalui surat yang disampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto.

Keputusan itu muncul hanya beberapa hari setelah Perry memimpin Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang menetapkan BI-Rate tetap di level 5,75 persen.

Sebagai sosok yang memimpin Bank Indonesia sejak 2018 dan kembali dipercaya untuk periode kedua pada 2023, mundurnya Perry dinilai memunculkan ketidakpastian di tengah upaya menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Destry Damayanti Ditunjuk Sebagai Pejabat Gubernur BI Sementara

Untuk memastikan tidak terjadi kekosongan kepemimpinan, Dewan Gubernur BI menggelar rapat darurat pada Minggu (26/7/2026).

Berdasarkan ketentuan Pasal 48 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, sebagaimana telah diubah terakhir melalui Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2026, rapat tersebut menetapkan Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti sebagai Pejabat Gubernur Bank Indonesia Sementara sesuai Pasal 50 ayat (2).

Dalam pernyataannya, Destry menegaskan operasional dan kebijakan Bank Indonesia tetap berjalan normal.

“Bank Indonesia akan selalu memastikan keberlangsungan tugas dan wewenang untuk mencapai stabilitas nilai tukar rupiah, memelihara stabilitas sistem pembayaran, dan turut menjaga sistem keuangan dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Destry.

Fokus Pasar Beralih ke Keputusan The Fed

Di sisi eksternal, sentimen global sebenarnya cenderung membaik setelah Amerika Serikat menghentikan sementara serangan udara terhadap Iran pada akhir pekan, yang mendorong penurunan harga minyak dunia dan meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko.

Namun, perhatian pasar kini tertuju pada hasil rapat kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) yang dijadwalkan diumumkan pada Rabu (29/7/2026).

Berdasarkan proyeksi CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan terdapat peluang sekitar 36,3 persen bagi bank sentral Amerika Serikat untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin.

Keputusan The Fed diperkirakan akan menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah dalam beberapa hari ke depan, di samping perkembangan terkait proses pengisian jabatan Gubernur Bank Indonesia secara definitif. (TOM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *