Floorball Surabaya Petakan Ancaman Bojonegoro-Malang Jelang Porprov 2027

Olahraga135 Dilihat

 

SURABAYA — Persiapan menuju Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur 2027 mulai digeber serius oleh floorball Kota Surabaya. Turnamen Surabaya Rising Champion 2026 tak sekadar menjadi ajang perebutan gelar, tetapi juga dimanfaatkan untuk memetakan kekuatan calon pesaing.

Kejuaraan yang berlangsung di Gelora Pancasila Surabaya, 8–10 September 2026, itu diikuti sekitar 50 tim dari kategori KU 13 hingga KU 18. Sejumlah tim dari luar Surabaya, termasuk Kabupaten Bojonegoro dan Kota Malang, turut ambil bagian.

Wakil Ketua Pengkot AFI Floorball Surabaya, Mohammad Rizal Andreanto, mengatakan kehadiran tim-tim tersebut menjadi momentum penting bagi Surabaya untuk membaca kekuatan lawan sebelum Porprov 2027.

“Ini menjadi acuan kami untuk melihat peta kekuatan di Jawa Timur. Kami mengundang dua kota dan kabupaten tersebut untuk mengamati cara bermain mereka, mumpung sebelum pelaksanaan Porprov 2027 yang akan dilaksanakan di Kota Surabaya,” ujar Andre.

Bojonegoro dan Kota Malang menjadi perhatian karena dinilai memiliki kekuatan kompetitif. Berdasarkan hasil kejuaraan tingkat provinsi pada Juli 2026, kedua daerah tersebut menjadi lawan yang patut diperhitungkan Surabaya.

“Peta kekuatan floorball di Jawa Timur khususnya ada di Surabaya, kemudian Kabupaten Bojonegoro. Dari kejuaraan provinsi pada Juli lalu, lawan yang cukup kuat adalah Bojonegoro dan Kota Malang,” katanya.

Karena itu, Surabaya Rising Champion sekaligus menjadi kesempatan bagi tim tuan rumah untuk mengukur kemampuan sekaligus mengamati karakter permainan calon pesaing.

Tak hanya berburu prestasi, AFI Floorball Surabaya juga menjadikan turnamen tersebut sebagai bagian dari regenerasi atlet. Kategori KU 13 mendapat perhatian khusus karena antusiasme sekolah-sekolah di Surabaya terhadap floorball terus menunjukkan peningkatan.

“Kejuaraan ini juga menjadi ajang menjaring atlet-atlet usia dini, khususnya KU 13. Antusiasme dari sekolah-sekolah di Surabaya sangat besar, kemudian berlanjut ke KU 15 dan KU 18,” ungkap Andre.

Pembinaan berjenjang tersebut diproyeksikan menjadi fondasi kekuatan Surabaya menghadapi Porprov 2027. Target pun dipasang tinggi, yakni merebut medali emas pada nomor putra dan putri.

Untuk tahap awal, AFI Floorball Surabaya menyiapkan 30 atlet, terdiri atas 15 putra dan 15 putri, dalam program Puslatcab. Komposisi tersebut masih memungkinkan berubah sesuai ketentuan teknis Porprov 2027.

AFI Floorball Surabaya saat ini masih menunggu technical handbook (THB) serta hasil rapat pelaksanaan Porprov untuk memastikan format dan ketentuan pertandingan.

Ketua Umum KONI Kota Surabaya, Arderio Hukom, menilai perkembangan Surabaya Rising Champion menunjukkan ekosistem floorball di Kota Pahlawan semakin hidup.

“Peningkatan peserta dari kejuaraan Piala Wali Kota sebelumnya dan sekarang di Surabaya Rising Champion 2026 ini menunjukkan bahwa ekosistem floorball sudah mulai hidup di Surabaya,” kata Arderio.

Menurutnya, semakin banyak kompetisi akan semakin membuka peluang lahirnya atlet-atlet potensial. Jam terbang pertandingan juga menjadi modal penting bagi atlet untuk menghadapi kompetisi yang lebih besar.

“Semoga kejuaraan-kejuaraan floorball yang lain semakin banyak. Akhirnya kita mempunyai atlet berbakat yang lebih banyak karena banyak kompetisi,” ujarnya.

Arderio juga menilai kehadiran Bojonegoro dan Kota Malang memberikan keuntungan tersendiri bagi Surabaya. Atlet tidak hanya mendapatkan pengalaman bertanding, tetapi juga bisa mengetahui sejauh mana kekuatan lawan yang kemungkinan kembali berhadapan pada Porprov 2027.

“Ini sekaligus menjadi tabungan agar kita lebih bersemangat lagi menyambut Porprov 2027. Terlebih peserta Surabaya Rising Champion@

title="banner 728x90" width="728" height="90"/>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *