Menurut Eri, Surabaya telah membuktikan kemampuannya sebagai penyelenggara pertandingan fase grup Piala Presiden 2026. Karena itu, ia optimistis kota yang dipimpinnya layak dipercaya menggelar partai-partai penentu pada penyelenggaraan berikutnya.
“Insyaallah Pak Menteri, di tahun berikutnya ketika Piala Presiden kembali digelar, saya berharap semifinal dan finalnya ada di Kota Surabaya,” ujar Eri saat mendampingi Ketua Steering Committee (SC) Piala Presiden 2026, Maruarar Sirait yang juga menjabat Menteri
Eri mengatakan, menjadi tuan rumah semifinal dan final bukan sekadar kebanggaan bagi Surabaya, tetapi juga membawa dampak positif bagi masyarakat. Selain menghidupkan perekonomian daerah, ajang sepak bola nasional tersebut juga diyakini mampu mempererat kebersamaan warga.
“Kami berharap suatu saat Surabaya dipilih menjadi tempat semifinal dan final, bukan hanya tempat babak penyisihan saja. Karena ini menjadi pengobat rindu, kebersamaan, sebab sepak bola adalah pemersatu masyarakat, khususnya Kota Surabaya,” katanya.
Sementara itu, Ketua Steering Committee (SC) Piala Presiden 2026, Maruarar Sirait, mengungkapkan bahwa Surabaya sebenarnya sempat menjadi kandidat kuat tuan rumah semifinal dan final. Menurutnya, faktor keamanan, antusiasme masyarakat, serta atmosfer sepak bola di Surabaya menjadi nilai lebih yang mendapat perhatian panitia.
Meski demikian, setelah melalui berbagai pertimbangan, panitia akhirnya menetapkan Bali sebagai lokasi penyelenggaraan semifinal pada 4 Agustus dan final pada 6 Agustus 2026.
Maruarar memastikan peluang Surabaya menjadi tuan rumah babak puncak Piala Presiden masih terbuka lebar pada edisi mendatang. Bahkan, ia menilai penyelenggaraan semifinal dan final di Surabaya akan memberikan dampak ekonomi yang besar melalui meningkatnya kunjungan suporter, okupansi hotel, aktivitas restoran, hingga geliat UMKM. (Tom)















