Foto: Ilustrasi (intr)
SURABAYA – Dua puluh tahun berlalu sejak krisis moneter 1998 mengguncang ekonomi Indonesia, namun jejak permainan impor pakaian bekas atau balpres masih terus membayangi perdagangan nasional. Di balik baju-baju murah yang dijual bebas di pasar-pasar kaki lima, terbentang jaringan penyelundupan yang telah berevolusi sejak era 2000-an hingga kini. Minggu (16/11).
Seorang pejabat senior kepabeanan yang terlibat langsung dalam berbagai penindakan sejak awal 2000-an mengungkapkan bagaimana permainan ini bertahan, memanfaatkan celah regulasi, luasnya garis pantai, hingga teknologi pemadatan (press) yang membuat pakaian bekas bisa diselundupkan dalam volume ekstrem kecil dengan nilai jual tinggi.
Pasca Krisis 1998: Celah Pertama Terbuka
Menurut narasumber yang pernah menjadi bagian dalam konferensi pers Kanwil Bea Cukai di Banyuwangi tahun 2003, situasi ekonomi pasca-krismon memicu fenomena unik. Barang-barang baru sangat mahal, sementara masyarakat sedang berusaha “menata ulang strata ekonominya”.
“Saat itu importir mulai bermain. Harga barang baru mahal semua. Balpres jadi pilihan karena murah, dan celah hukum masih bisa dimanfaatkan,” sebut salah satu pelaku balpres yang engan disebutkan namanya.
Meskipun larangan impor pakaian bekas sudah lama diterapkan Kementerian Perdagangan, kewenangan penindakan berada sepenuhnya di tangan Bea dan Cukai. Namun, keterbatasan kewenangan di laut lepas membuka ruang bagi para penyelundup.
Modus Laut: Kapal Tujuan Timor Leste yang Tak Pernah Sampai
Modus paling terkenal dan paling sering ditemukan selama hampir dua dekade adalah penyalahgunaan rute pengiriman laut ke Timor Leste.
Para importir memanfaatkan status Timor Leste sebagai negara lain yang bukan wilayah Indonesia.
“Kapal secara dokumen menuju Timor Leste. Kami tidak punya kewenangan menindak, karena itu barang ekspor ke luar negeri. Tapi kenyataannya, barang itu tidak pernah sampai ke sana,” kata Navy Zawariq selaku Humas Bea Cukai Tanjung Perak.
Puluhan kapal tersebut justru membelokkan haluan dan menurunkan kargo di Flores, Makassar, Maluku dan kemudian menyebar ke daerah lain melalui pelabuhan-pelabuhan kecil.
Dengan garis pantai Indonesia yang mencapai lebih dari 109 ribu kilometer, celah ini semakin sulit diawasi.
Era Kapal Pinisi: Modus Lama yang Masih Dipakai, Sebelum teknologi kontainer semaju sekarang, penyelundup memanfaatkan kapal pinisi yang kuat dan mampu menepi jauh dari pelabuhan internasional.
Barang diturunkan di tengah laut atau di pantai terpencil, lalu diedarkan melalui jaringan perantara lokal.
Teknologi Press: Mengubah Skala Keuntungan
Salah satu perubahan terbesar dalam industri balpres adalah teknologi pengepressan pakaian bekas. Dalam satu bal, pakaian yang seharusnya memenuhi satu bak mobil dapat dipadatkan menjadi ukuran jauh lebih kecil, membuat penyelundupan makin efisien dan sulit dideteksi.
“Teknologi press itu luar biasa. Dari volume besar jadi mungil, nilai jualnya tetap tinggi,” ungkap Navy Zawariq.
Benturan dengan Industri Tekstil Nasional
Impor tekstil resmi dari Tiongkok dikenai tarif tinggi sebagai bentuk barrier untuk melindungi industri dalam negeri.
“Celana jeans Eratex misalnya, tidak mungkin bisa bersaing kalau barang China masuk terlalu murah. Tapi balpres? Itu sama sekali tidak memberi kontribusi pada negara,” tegas Humas Bea Cukai Tanjung Perak, Navy Zawariq, kepada Info Garuda.
Sementara barang legal membayar bea masuk besar, balpres masuk tanpa pajak sepeser pun, mengancam industri dari hulu hingga hilir.
Pelabuhan Tanjung Perak: Tidak Ada Celah
Sebagai pelabuhan internasional, Tanjung Perak menjadi titik pengawasan paling ketat.
“Kalau sampai ada balpres lewat sini dan ketahuan, langsung kami amankan. Semua barang yang melalui Tanjung Perak diperiksa tim intelijen.”
Barang yang terdeteksi sebagai balpres langsung ditetapkan sebagai barang yang dikuasai negara untuk proses lanjutan.
Namun pejabat mengakui, balpres yang beredar di pasar tidak mungkin lewat pelabuhan besar.
“Pasti lewat pelabuhan tikus.” terangnya
Modus Dokumen Palsu dan PT Fiktif
Beberapa penyelundup mencoba masuk melalui pelabuhan resmi dengan: memalsukan dokumen membuat deklarasi barang palsu dan menggunakan PT fiktif yang sulit dilacak.
“Kasus balpres itu jatuhnya penyelundupan. PT-nya disamarkan sehingga pembeli akhirnya tak bisa ditelusuri,” ujar Navy Zawariq
Pengawasan Laut: Dari Priok hingga Sumatera
Bea Cukai mengoperasikan tim patroli laut yang tersebar di beberapa pangkalan besar, termasuk: Tanjung Priok, Sumatera dan Makassar
Namun luasnya lautan Indonesia dan banyaknya pelabuhan tidak resmi membuat penindakan hanya mampu menangkap sebagian kecil aliran balpres.
Data Penindakan: Masih Ditunggu, Jaringan Masih Hidup
Hingga kini, data lengkap penindakan balpres masih terus dihimpun. Namun pejabat memastikan bahwa jaringan penyelundupan tetap aktif, mengikuti perubahan teknologi dan celah hukum.
“Modus berganti, tapi alurnya sama: barang murah dari luar negeri, masuk lewat laut, dijual di pasar dalam negeri dengan margin besar tanpa kontribusi ke negara.” terangnya. Tio












