Bukan Sekadar Karnaval! Warga Babatjerawat Hidupkan Kembali Legenda Nusantara

Hiburan33 Dilihat

SURABAYA — Ada cara berbeda yang dilakukan warga RW 13, Kelurahan Babatjerawat, Kecamatan Pakal, Surabaya, untuk memaknai kemerdekaan Indonesia ke-81.

Minggu (30/8/2026) pagi, sejak pukul 06.00 WIB, jalan kampung yang biasanya menjadi jalur aktivitas warga mendadak berubah menjadi panggung budaya.

Ratusan warga tampil dengan kostum dan karakter yang membawa cerita dari berbagai penjuru Nusantara. Bawang Merah dan Bawang Putih, Keong Emas, Roro Jonggrang, Joko Tarub, Si Pitung, Ramayana, Jaranan hingga Reog Ponorogo hadir dalam iring-iringan karnaval.

Bukan sekadar parade kostum. Setiap RT membawa cerita, karakter, sekaligus pesan yang ingin disampaikan kepada masyarakat.

RT 07 memilih kisah Bawang Merah dan Bawang Putih, yang menggambarkan pertarungan antara ketulusan dan keserakahan. RT 08 menghadirkan Keong Emas, dengan pesan mengenai kesetiaan dan keteguhan.

Sementara itu, RT 06 menampilkan energi Jaranan dan Reog Ponorogo. RT 05 membawa kisah Ramayana, yang sarat dengan nilai keberanian dan pengorbanan.

Cerita lainnya datang dari RT 04 melalui tokoh Joko Tarub, RT 03 dengan Si Pitung, RT 02 menghadirkan Roro Jonggrang, sedangkan RT 01 memilih Ande-Ande Lumut.

Beragam legenda tersebut kemudian bertemu dalam satu ruang: jalan kampung Babatjerawat.

BUKAN SEKADAR BERKOSTUM

Yang menarik, warga tidak berhenti pada penggunaan pakaian tradisional atau kostum karakter. Sejumlah peserta memainkan tokoh yang mereka tampilkan. Gerakan, ekspresi, dialog hingga adegan teatrikal membuat suasana karnaval terasa seperti pertunjukan seni yang berjalan dari satu sudut kampung ke sudut lainnya.Anak-anak dan remaja pun ikut mengambil bagian.

Di tengah kehidupan generasi muda yang semakin dekat dengan teknologi dan budaya digital, warga mencoba menghadirkan kembali cerita-cerita lama dalam bentuk yang lebih dekat dengan kehidupan mereka.

Legenda yang selama ini hanya dikenal melalui buku, cerita orang tua atau pelajaran di sekolah, pagi itu hadir secara langsung di depan mata.

Roro Jonggrang tidak hanya menjadi nama dalam cerita rakyat. Si Pitung tidak sekadar tokoh dalam buku sejarah dan legenda. Keong Emas pun tidak hanya menjadi dongeng yang diceritakan sebelum tidur. Semua dihidupkan kembali melalui kreativitas warga.

Tokoh masyarakat Babatjerawat, Idasfiar, mengapresiasi keterlibatan masyarakat dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, kemeriahan karnaval menjadi gambaran kuatnya kebersamaan warga.

“Antusiasme warga luar biasa. Mulai dari ketua RT, ibu-ibu PKK, ibu-ibu Dasawisma hingga seluruh keluarga ikut terlibat. Orang tua dan anak-anak larut dalam suasana. Inilah bentuk keguyuban yang harus terus dijaga,” ujarnya.

GOTONG ROYONG DI BALIK KEMERIAHAN

Kemegahan karnaval ternyata tidak muncul begitu saja. Jauh sebelum warga turun ke jalan, masing-masing RT telah mempersiapkan konsep, kostum, properti dan penampilan.

Ada warga yang membuat perlengkapan pertunjukan. Ada yang menyiapkan busana. Sebagian lainnya melatih anak-anak dan remaja untuk memainkan karakter.

Orang tua, anak-anak, ibu-ibu hingga para pemuda mengambil peran masing-masing. Di sinilah makna kemerdekaan terasa lebih nyata.

Bukan hanya tentang pesta dan kemeriahan, tetapi tentang kemampuan masyarakat untuk berkumpul, bekerja sama dan menciptakan sesuatu secara bersama-sama.

Karnaval menjadi ruang pertemuan antargenerasi. Anak-anak mendapatkan pengalaman mengenal budaya, sementara orang tua memiliki kesempatan untuk kembali memperkenalkan cerita-cerita Nusantara yang mulai jarang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

MERAWAT AKAR DI TENGAH MODERNITAS

Apa yang dilakukan warga RW 13 Babatjerawat juga menjadi pengingat bahwa kemajuan zaman tidak harus membuat masyarakat meninggalkan akar budayanya.

Modernisasi tetap bisa berjalan berdampingan dengan tradisi. Teknologi boleh berkembang. Gaya hidup boleh berubah. Generasi boleh berganti.

Namun, cerita mengenai asal-usul, nilai kehidupan dan kebudayaan tetap perlu diwariskan.

Sebab budaya bukan sekadar benda yang disimpan di museum. Budaya akan tetap hidup apabila masyarakat terus mempraktikkan, mengenalkan dan mewariskannya kepada generasi berikutnya.

Karnaval RW 13 Babatjerawat akhirnya bukan hanya menjadi agenda memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi warga untuk memperlihatkan bahwa kebersamaan, kreativitas dan budaya masih bisa menjadi kekuatan sebuah kampung.

Ketika iring-iringan berakhir dan kostum kembali disimpan, cerita yang dibawa warga tidak ikut berakhir. Ia telah berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dari orang tua kepada anak-anak.

Dari cerita lama menjadi pengalaman baru.Dan dari halaman buku, legenda Nusantara akhirnya benar-benar turun ke jalan.

Di Babatjerawat, kemerdekaan dirayakan bukan hanya dengan mengingat sejarah bangsa, tetapi juga dengan merawat kebudayaan yang menjadi bagian dari jati diri Indonesia.

Karena sebuah bangsa boleh berlari mengejar masa depan. Tetapi jangan sampai lupa membawa akar budayanya. @

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *