Borong 11 Emas, Gresik Pertahankan Juara Umum Senam Popda Jatim

Olahraga81 Dilihat

Surabaya:  Dominasi Gresik di cabang olahraga senam Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) XV Jawa Timur belum terbendung. Dengan koleksi 11 medali emas, tiga perak, dan tiga perunggu, kontingen Gresik sukses mempertahankan predikat juara umum yang sebelumnya diraih pada Popda XIV di Bangkalan 2024.

Keberhasilan tersebut sekaligus menegaskan konsistensi pembinaan senam di Gresik. Pada Popda XIV, Gresik mengumpulkan delapan emas, tiga perak, dan satu perunggu. Kini, raihan medali mereka meningkat menjadi 17 medali.

Kota Kediri menempati posisi kedua dengan lima emas, tiga perak, dan satu perunggu. Sementara Surabaya berada di peringkat ketiga setelah mengoleksi tiga emas, lima perak, dan empat perunggu.

Sejumlah pesenam menjadi penyumbang utama medali emas Gresik. Albisma Akbar Frazally dan Kai Katelyn Wirjadi masing-masing menyumbangkan tiga emas. Gian Aditya Ardhani meraih dua emas, disusul Alya Gendis Putranti, Razzekha Orla Zaida Fahad, serta nomor beregu putra Kompetisi I (Sn-Akipa).

Ketua II Pengurus Provinsi (Pengprov) Persatuan Senam Indonesia (Persani) Jawa Timur, Indra Sibarani, menilai hasil Popda XV menjadi gambaran perkembangan pembinaan senam di daerah. Namun, capaian prestasi tersebut perlu diikuti peningkatan fasilitas latihan agar kualitas atlet semakin berkembang.

Menurutnya, pemerintah kabupaten/kota perlu mulai memperhatikan ketersediaan peralatan senam berstandar internasional. Terlebih, pada Porprov Jatim X 2027 di Surabaya, pertandingan akan menggunakan Code of Points dari Federasi Senam Internasional (FIG).

“Jadi tidak ada lagi rangkaian wajib. Semuanya harus mengejar gerakan sesuai ketentuan. Tentunya setiap daerah harus memiliki peralatan yang memadai,” kata Indra, Kamis (5/11).

Ia menambahkan, keterbatasan fasilitas masih menjadi pekerjaan rumah dalam pembinaan senam di sejumlah daerah. Peralatan seperti matras standar, kuda-kuda pelana, gelang-gelang, hingga balok bertingkat menjadi kebutuhan penting untuk menunjang latihan atlet.

Indra juga memberikan perhatian khusus kepada atlet muda yang selama ini mengikuti program Pemusatan Latihan Jangka Panjang Persani Jatim di Petrokimia Gresik. Salah satunya Gian Aditya Ardhani yang pada usia 14 tahun mampu menunjukkan performa menjanjikan.

Atlet muda tersebut berhasil meraih tiga medali emas pada nomor alat lantai, meja lompat, dan beregu. Capaian itu dinilai menjadi modal penting untuk menapaki jenjang pembinaan yang lebih tinggi.

“Semoga ke depan atlet muda itu bisa menjadi atlet nasional. Di usia yang masih sangat belia, dia sudah mampu melakukan gerakan-gerakan dengan tingkat kesulitan dan nilai tinggi,” ujar Indra yang juga pelatih senam PON Jawa Timur.

Jadi Ajang Penjaringan Atlet Potensial

Lebih dari sekadar perebutan medali, Popda XV Jatim juga menjadi kesempatan bagi Persani untuk memantau perkembangan sekaligus menjaring atlet potensial dari berbagai kabupaten/kota.

Sebanyak 250 atlet dari 28 daerah ambil bagian dalam persaingan memperebutkan 24 medali emas di Gedung Senam Nusantara, Citraland, Surabaya. Kejuaraan ini menjadi salah satu ajang penting untuk mengukur hasil latihan sekaligus mengevaluasi perkembangan atlet pelajar.

Indra menyebut kesempatan bertanding dalam kompetisi tingkat pelajar tidak banyak tersedia. Karena itu, Popda memiliki arti penting bagi atlet maupun pelatih untuk mengetahui sejauh mana peningkatan kemampuan setelah menjalani latihan bertahun-tahun.

Persani Jatim juga membuka peluang bagi atlet yang menunjukkan potensi menonjol untuk masuk program pembinaan jangka panjang. Penilaian tidak hanya didasarkan pada perolehan medali, tetapi juga kemampuan teknis, potensi perkembangan, serta prospek prestasi ke depan.

Pola penjaringan tersebut sebelumnya juga dilakukan dalam Kejurnas di Kediri. Atlet terpilih kemudian mendapatkan pembinaan intensif di Mess Petrokimia Gresik.

“Ada peluang bagi anak-anak ini untuk dipersiapkan ke jenjang yang lebih tinggi. Tolok ukurnya tidak semata-mata juara di sini, tetapi kami melihat potensi jangka panjangnya,” jelasnya.

Dari sisi persaingan, Indra melihat kekuatan senam Jawa Timur mulai menunjukkan pemerataan. Surabaya, Gresik, Sidoarjo, dan Kediri masih menjadi daerah yang diperhitungkan. Namun, perkembangan atlet dari daerah lain seperti Trenggalek dan Situbondo juga mulai terlihat.

Menariknya, sebanyak 24 atlet yang sebelumnya menjalani pembinaan terpadu di Petrokimia Gresik kini kembali memperkuat daerah masing-masing. Kehadiran mereka membuat persaingan Popda XV semakin kompetitif sekaligus meningkatkan kualitas pertandingan.

“Jadi peta persaingan antardaerah di Popda cukup merata karena 24 atlet yang selama ini berlatih di Petrokimia membela daerah masing-masing,” pungkasnya. @

banner 728x90

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *