Surabaya – Proyek pembangunan Gedung Sekolah Lantai 3 SMP Negeri Tambak Wedi Surabaya senilai Rp8 miliar yang dibiayai APBD Kota Surabaya Tahun Anggaran 2025 menuai sorotan. Sejumlah indikasi kejanggalan teknis konstruksi ditemukan di lapangan, mulai dari pekerjaan pagar keliling hingga struktur kolom beton utama bangunan yang terindikasi dipotong dan tidak menerus. Minggu (13/12).
Proyek yang berada di bawah Satuan Kerja Dinas Pendidikan Kota Surabaya tersebut dikerjakan oleh CV SJU Baru dengan waktu pelaksanaan 120 hari kerja. Namun, hasil pantauan di lokasi menunjukkan pelaksanaan pekerjaan struktur dinilai tidak sepenuhnya meyakinkan dari sisi mutu, metode, dan fungsi konstruksi.
Pekerjaan awal berupa pemagaran keliling area sekolah tampak menggunakan pondasi batu kali, sloof beton bertulang, serta kolom beton pagar dengan pasangan bata di antaranya. Meski secara visual struktur telah berdiri, kualitas susunan pondasi batu kali menjadi tanda tanya.
Ukuran batu kali yang tidak seragam serta metode penyusunan batu pada lapisan dasar pondasi menimbulkan dugaan daya dukung pondasi belum tentu memenuhi standar teknis untuk menahan beban sloof dan tembok pagar di atasnya.
Selain itu, kolom beton pagar yang dicor dengan penyangga sementara juga memunculkan pertanyaan terkait: komposisi campuran beton, diameter dan jenis tulanga.Jarak sengkang (beugel) serta ketebalan selimut beton.
Seluruh aspek tersebut krusial dalam menentukan kekuatan tekan dan umur struktur, namun belum ada kejelasan apakah pelaksanaannya mengacu penuh pada spesifikasi dalam gambar bestek.
Pada pekerjaan pasangan bata dan plesteran pagar, standar teknis umumnya mensyaratkan campuran 1:5 atau 1:6 (semen dan pasir). Namun, di lapangan tidak terlihat adanya kontrol mutu yang jelas, sehingga komposisi adukan dikhawatirkan jauh dari standar, berpotensi menurunkan kualitas dan ketahanan bangunan.
Sorotan paling serius ditemukan pada struktur kolom beton utama gedung. Di beberapa titik, kolom beton dibangun dari pondasi tanam tanah menggunakan begisting pasangan bata hingga di atas permukaan tanah.

Awalnya, kolom tersebut tampak dirancang sebagai kolom beton bertulang utama, dengan tulangan besi ulir berdiameter besar yang menjulang ke atas sebagai pengikat struktur lantai berikutnya. Namun fakta di lapangan justru menunjukkan tulangan tersebut dipotong, sehingga kolom beton hanya tersisa setinggi kurang dari satu meter.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan mendasar dan serius:
1. Apakah kolom beton tersebut memang sejak awal direncanakan hanya sebagai dudukan konstruksi baja WF?
2. Ataukah terjadi perubahan atau penyimpangan pelaksanaan dari desain struktur awal?
Jika kolom beton utama tidak menerus sesuai perhitungan struktur, maka hal ini berpotensi mengganggu sistem penyaluran beban bangunan, terlebih gedung tersebut direncanakan hingga tiga lantai.
Dalam konstruksi gedung bertingkat, kolom utama merupakan elemen vital. Kesalahan desain atau pelaksanaan dapat berdampak pada penurunan kapasitas struktur, risiko retak dini, hingga potensi kegagalan struktur dalam jangka panjang. Jer











