14 Kabupaten di Jawa Timur Tetapkan Status Siaga Darurat Kekeringan, Ini Penjelasan Kepala BPBD Gatot Soebroto!

Berita, Nasional39 Dilihat

Surabaya – Musim kemarau yang berlangsung lebih panjang mulai memicu krisis air bersih di sejumlah wilayah Jawa Timur. Hingga Selasa (21/7/2026), sebanyak 14 kabupaten telah menetapkan status siaga darurat kekeringan sebagai langkah antisipasi menghadapi dampak kemarau.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur, daerah yang telah menetapkan status siaga darurat meliputi Banyuwangi, Jember, Bondowoso, Situbondo, Lumajang, Malang, Trenggalek, Lamongan, Bojonegoro, Bangkalan, Sampang, serta beberapa kabupaten lainnya. Dari seluruh wilayah terdampak, Bondowoso menjadi daerah dengan kondisi kekeringan paling parah.

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jawa Timur, Gatot Soebroto, mengatakan penetapan status siaga darurat dilakukan agar pemerintah daerah dapat bergerak cepat ketika masyarakat mulai mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.

“Status siaga darurat ini menjadi langkah antisipasi agar pemerintah kabupaten dapat segera melakukan penanganan apabila terjadi krisis air bersih di wilayahnya,” ujar Gatot Soebroto.

Hingga saat ini, delapan kabupaten telah melakukan dropping air bersih kepada masyarakat yang terdampak kekeringan. Meski demikian, belum ada pemerintah kabupaten yang mengajukan permohonan bantuan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Menurut Gatot, kondisi tersebut menunjukkan penanganan masih dapat dilakukan menggunakan anggaran daerah masing-masing serta dukungan dari berbagai lembaga kemanusiaan.

 

BPBD Provinsi Jawa Timur sendiri telah menyiapkan sejumlah bantuan darurat berupa tandon air, jerigen, dan terpal penampung air. Bantuan tersebut akan didistribusikan apabila pemerintah kabupaten sudah tidak mampu lagi menangani dampak kekeringan secara mandiri.

Selain itu, masyarakat juga diminta mulai mengantisipasi potensi krisis air dengan memanfaatkan setiap peluang hujan yang masih terjadi.

“Kami mengimbau masyarakat yang wilayahnya masih berpotensi turun hujan agar menampung air sebanyak mungkin, karena berdasarkan prakiraan BMKG puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada akhir Juli hingga Agustus,” tutur Gatot Soebroto.

BPBD Jawa Timur terus memantau perkembangan kondisi di seluruh daerah dan memastikan bantuan logistik akan segera disalurkan apabila situasi kekeringan semakin meluas. (KRIS/TOM)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *