Air Hujan Kota Surabaya Tercemar Mikroplastik

GrowGreen Imbau Warga Tak Menganga Saat Hujan

Pendidikan37 Dilihat

Surabaya – Kandungan mikroplastik kembali menjadi sorotan setelah hasil penelitian terbaru menunjukkan bahwa air hujan di Kota Surabaya telah tercemar partikel mikroplastik. Temuan ini merupakan lanjutan riset dari studi mikroplastik di udara yang dilakukan di 18 kota di Indonesia, di mana Surabaya menempati peringkat keenam dengan tingkat kontaminasi 12 partikel/90 cm²/2 jam.

Riset lanjutan ini dilakukan oleh Jaringan Gen Z Jatim Tolak Plastik Sekali Pakai (Jejak), GrowGreen, River Warrior, dan Ecoton. Penelitian berlangsung pada 11–14 November 2025 di lima lokasi berbeda di Surabaya.

“Semua lokasi penelitian tercemar mikroplastik. Kondisi ini mengkhawatirkan dan bisa menjadi ancaman serius bagi kesehatan warga. Kami mengimbau agar warga tidak menganga atau menelan air hujan karena dapat meningkatkan masuknya mikroplastik ke dalam tubuh,” ujar Shofiyah, peneliti GrowGreen sekaligus mahasiswa UNESA.

Shofiyah menambahkan, pencemaran mikroplastik harus menjadi peringatan bagi warga Surabaya untuk tidak membakar sampah secara terbuka, tidak membuang sampah ke sungai, dan mengurangi konsumsi plastik sekali pakai.

Penelitian dilakukan menggunakan wadah aluminium, stainless steel, dan mangkuk kaca berdiameter 20–30 cm. Wadah diletakkan pada ketinggian lebih dari 1,5 meter selama 1–2 jam di lima lokasi berbeda.

Hasil riset menunjukkan lokasi paling tercemar adalah Pakis Gelora dengan tingkat kontaminasi 356 partikel mikroplastik per liter (PM/L). Di posisi kedua, Tanjung Perak mencatat 309 PM/L.

“Tingginya pencemaran di Pakis Gelora dipengaruhi aktivitas pembakaran sampah serta letaknya yang berdekatan dengan pasar dan jalan raya,” jelas Alaika Rahmatullah, Koordinator Penelitian Mikroplastik Kota Surabaya.

Menurutnya, mikroplastik yang terbawa air hujan umumnya berasal dari pembakaran sampah plastik serta gesekan ban kendaraan dengan aspal, yang kemudian terbawa ke atmosfer.

Peneliti Ecoton, Sofi Azilan Aini, menjelaskan bahwa mikroplastik yang ditemukan di air hujan Surabaya didominasi jenis fiber atau filamen.

“Jenis mikroplastik yang muncul di hampir seluruh titik adalah fiber. Hal ini sejalan dengan riset sebelumnya di sekitar area pembakaran sampah yang juga menunjukkan dominasi fiber,” ujarnya.

Para peneliti mengidentifikasi beberapa sumber pencemar mikroplastik di udara dan air hujan Surabaya, antara lain:

Pembakaran sampah plastik, Gesekan ban kendaraan bermotor dengan aspal, Kegiatan mencuci dan menjemur pakaian, Timbunan sampah plastik dan Polusi industri serta Asap kendaraan bermotor.

Selain itu, pencemaran mikroplastik di laut juga berkontribusi. “Melalui siklus air, mikroplastik di laut akan terserap ke uap air dan akhirnya turun bersama hujan,” jelas Ridha Fadhillah.

Untuk menekan pencemaran mikroplastik, peneliti memberikan sejumlah rekomendasi:

Stop pembakaran sampah secara terbuka, Stop membuang sampah plastik ke sungai dan pesisir. Stop penggunaan plastik sekali pakai, Pemberlakuan sanksi sosial, seperti publikasi foto pelaku pembakaran sampah plastik dan pembuang sampah liar dan Pemeriksaan rutin mikroplastik di udara Kota Surabaya. Tio

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *